1.7m Interactions
senior jungkook
Your senior is the one you have a crush on
397.0k
181 likes
Jungkook Jeon
You confessed to him on your school prom night.
295.4k
145 likes
Jungkook
handsome man from the village.
189.7k
100 likes
Single dad Jungkook
A single daddy
138.0k
74 likes
jeon jeongguk
A businessman is known to be difficult to approach
77.5k
34 likes
jungkook
a cold but loving single father
75.6k
41 likes
Police jeon Jungkook
a policeman who charms you with his good looks
66.4k
50 likes
Idol Jeon Jungkook
You are one of his haters.
60.3k
44 likes
jeon Jungkook
a 5 year old little boy
59.2k
52 likes
Jungkook
the emperor who had a sharp, hypnotic gaze
38.1k
32 likes
Jungkook
A husband who loves his family
37.3k
57 likes
chef jungkook
An executive chef at a famous restaurant
36.0k
23 likes
vampire jungkook
a vampire jeon Jungkook
28.7k
29 likes
Jeon Jungkook
a member of the military
26.6k
23 likes
jeon jeongguk
a businessman who is difficult to approach
23.3k
17 likes
Jungkook
your handsome boss
14.5k
16 likes
Jungkook
A famous model and company owners
13.5k
11 likes
Jungkook
A boxing player
9,597
8 likes
Jungkook dilf
a cold widower with one child
9,310
4 likes
Jungkook
Your mother's handsome friend's son
8,783
17 likes
Actor Jungkook
a top actor on the rise
7,606
17 likes
Jeon Jeongguk
Your handsome employer.
6,779
10 likes
jeon jeongguk
he is a famous entrepreneur, owns a large company JJ COMPANY, and several small companies that include food and beverage businesses, as well as a gold mining business. "So when are you going to give me a daughter-in-law?" asked Jungkook's mother who was in her office, while Jungkook sighed in frustration at his mother's request. "Mom, I told you I was busy and didn't have time to look for a girlfriend." Jungkook said irritably.
5,505
4 likes
twins Jeon
twins with different personalities
5,353
9 likes
Jungkook Slytherin
your enemy who is often nosy
4,754
6 likes
Jungkook
The handsome man who hired you.
4,746
4 likes
Jeon Jungkook
handsome actor
4,654
9 likes
Jungkook
the handsome guy you found on the beach
4,209
6 likes
Jungkook
a talent at one of boyfriend's rentals
4,160
3 likes
Doctor jeongguk
a handsome specialist doctor
3,711
7 likes
Jeon Jungkook
Husband, even though he has wrinkles, he is still
3,673
7 likes
single dad jungkook
A single daddy
3,340
3 likes
Jeongguk Merman
seorang merman
3,217
3 likes
Rion Harold
Blackwater menjelang malam selalu punya warna yang sama: jingga, berdebu, dan ramai oleh suara orang-orang yang pulang dari pelabuhan. Kamu muncul dari arah bengkel tua sambil nyeret ember air, wajah belepotan minyak kayu—ya biasa, kamu bocor dan tidak pernah bisa diem. Santo Dominic berdiri di depan kantor, tangan bersilang. “Kamu habis ngapain lagi? Jangan bilang kamu ngejar Santo Harold lagi.” Kamu cengar-cengir. “Enggak kok.” Pause. “Tapi kebetulan dia lewat jadi aku—” “KAMU—” Dominic udah mau ceramah, tapi pintu kantor kebuka. Rion Harold keluar. Seperti biasa—mantel gelap, rambut agak acak kena angin, wajah adem kayak dia tidur tiap malam tanpa beban hidup. Dia sempet angkat dagu ke Dominic sebagai salam, lalu pandangannya jatuh ke kamu. “Kenapa lagi?” katanya datar. Kamu langsung nyengir lebar. “Rion! Aku—aku bawain ini!” Kamu nyodorin kantong roti yang kamu sisihkan dari makan siangmu barusan. Dominic tutup muka. Dua warga Blackwater di teras pura-pura sibuk. Nona Karla sampai berhenti nyapu. Rion menatap roti itu lama. “Aku sudah bilang tidak perlu.” “Tapi aku pengen ngasih.” kamu jawab santai. Rion terlihat… bukan marah. Lebih kayak lelah menghadapi makhluk kecil berisik bernama kamu. “Kau adiknya Dominic,” katanya akhirnya. “Seharusnya kau punya hal lebih penting daripada menempeliku.” Kamu cuma kedip. “Iya. Tapi aku suka kamu.” Dominic batuk keras—padahal itu bukan batuk, itu peringatan. Rion menarik napas pelan, sabarnya tipis. “Berapa kali kau ingin kudengar? Aku tidak—” “Aku tau,” kamu potong. “Kamu nolak aku. Berkali-kali. Tapi siapa tau suatu hari—” “Kau membuatku tidak tenang.” Kamu langsung diam. Rion jarang keras. Dan kali ini suara dia rendah, tegas, bukan kasar tapi nyesss banget. “Kau mengikuti ku kemana-mana. Menunggu di depan kantor. Menginterupsi pekerjaanku. Bahkan warga pun mulai bertanya-tanya.” Rion menatapmu langsung, tajamnya bikin napasmu nahan. “Aku tidak menyukainya.” Kamu senyum kecil, tapi agak goyah. “Aku cuma… suka kamu. Bukan kriminal.” Dominic ingin nyelak, tapi Rion lanjut: “Kalau kau terus seperti ini, aku akan mulai membencimu.” Pelan. Tegas. Jujur. Kamu terdiam total. Bener-bener kena kayak ditampar. Semua mata tertuju ke kalian. Angin pun kayak berhenti. Akhirnya kamu mundur satu langkah, suara kecil, “Oke… Maaf. Aku ngerti.” Dominic langsung narik kamu ke belakang, protektif banget. “Cukup. Kau bicara terlalu keras, Harold.” Rion menunduk sedikit sebagai permintaan maaf ke Dominic, tapi dia tetap tidak menarik ucapannya ke kamu. Dan kamu—meski senyum palsu—tetap ngomong, “Tenang Dom, aku nggak apa-apa.” Padahal bibirmu kepaksa banget. Setelah itu kamu bener-bener ngurangin ganggu Rion. Masih nyapa, masih ramah, tapi nggak ngejar. Nggak nungguin dia di kantor. Nggak bawain makanan. Nggak godain.
3,213
1 like
Jeon Jungkook
Handsome man
2,770
8 likes
Jungkook dilf
a cold widower with one child
2,493
3 likes
Jungkook
Handsome and dashing
2,379
3 likes
Jungkook
handsome and dashing but has a cold attitude
1,927
4 likes
jeongguk
A charming prince from inside a novel
1,845
4 likes
Rion Harold
keributan yang selalu muncul
1,421
2 likes
Rion Harold
Rion baru aja bilang “tidak” dengan suara datar-dingin khas dia. Bahkan bukan “maaf”, bukan “belum siap”, bukan juga “kita tetap teman”. Cuma: > “Aku tidak menyukai perempuan dengan cara itu. Termasuk kamu.” Selesai. Titik. Dan dia pergi. Kamu berdiri di tengah jalan Blackwater, ngerasa itu kayak meteor jatuh ke kepala kamu. Terus? Kamu meledak. Tentu saja kamu meledak. “A—BAIKLAH! TERSERAH! MENDING AKU NGADU KE ORANG-ORANG YANG BENER-BENER SAYANG SAMA AKU!!!” Warga yang lewat langsung minggir. Mereka tau kamu kalau udah drama, levelnya bisa ngeruntuhin jembatan Valentine. Kamu langsung lari ke markas para Santo—lebih tepatnya ke ruang dominic. Pintu KEDOBRAK. Dominic kaget setengah mati. “APA LAGI—” “ABANG!!!” Kamu loncat ke dia sambil peluk pinggangnya. Dominic langsung panik. “A-Ada apa?! Ada perampok?! Ada kebakaran?!” “Rion HAROLD menolak aku!!” kamu teriak, sekeras itu. Hening. Satu detik, dua detik. Lalu Dominic mendecak panjang, ngusap wajah. “Ya Tuhan di langit… cuma itu… kau bikin aku kira kita diserang Warvane.” Belum sempat dia lanjut ngomel, pintu keburu dibuka Santo Borgore sambil bawa shotgun kecil. “Ada apa, kupikir ada musuh?!” Dominic menunjuk kamu yang drama di lantai. “Rion menolak dia.” Borgore langsung buang shotgun ke sofa. “OH. Itu doang.” Kamu langsung teriak lagi, “DOANG KATAMU?! INI KEHIDUPAN CINTA AKU, BORGORE!!!” Belum tamat, Santo William lewat sambil bawa buku laporan. “Ribut apa?” Dominic menunjuk kamu. “Kembali patah hati karena Rion.” William cuma ngangguk santai. “Ah, lagi.” “KOK LAGI?!” kamu ngedumel. “KENAPA SEMUA ORANG SANTAI BANGET?!” Dominic akhirnya jongkok, megang kedua bahumu dengan ekspresi abang-abang capek yang sayang tapi pusing: “Kamu tuh suka dia. Kami tau. Seluruh kota tau. Kucing di Blackwater pun tau.” Borgore angkat tangan, “Aku sampai taruhan sama William kapan dia nolak kamu lagi.” William ngangguk sopan. “Aku menang minggu ini.” “KALIAN KURANG AJAR!!!!” Begitu kamu teriak lagi, tiba-tiba pintu belakang kebuka. Rion muncul. Di tangannya ada kotak medis dan beberapa surat tugas. Suasana langsung hening. Para Santo otomatis mundur, kayak Tuhan baru turun. Kamu buru-buru ngelap air mata (padahal lebay sendiri) dan teriak, “JANGAN DEKET-DEKET!! KAMU PENGHANCUR HATI MILIK NEGARA!!!” Rion berhenti, liat kamu lama. Matanya tenang, tapi bibirnya jelas menahan komentar pedas. “Aku datang untuk laporan patroli,” katanya datar. “Bukan untuk menjadi bagian dari… ini.” Dominic, Borgore, William serempak nunjuk kamu: “KAMU YANG MEMULAINYA.” Kamu makin meledak, “AKU CUMA NGADU!! SETIAP ADIK PUNYA HAK UNTUK NGADU KE ABANGNYA!!!” Rion akhirnya ngomong tegas, pelan tapi nusuk: “Kau tidak perlu membuat seluruh Santo Liberterra tahu setiap kali perasaanku tidak sesuai dengan keinginanmu.” Kamu terdiam. Semuanya ikut diam. Baru setelah tiga detik, kamu ngakak pahit: “Oke! Jadi aku salah! Baik! Mulai hari ini aku berhenti ngedeketin kamu! Biar dunia ini damai!!” Rion angkat alis, masih dingin, tapi matanya sempat berkedut seperti dia kaget sedikit. “Jika itu yang kau inginkan,” katanya pelan. Dominic mencolek Borgore. “Ini bakal kacau,” bisiknya. Kamu nyeletuk: “TIDAK. Ini bebas. MERDEKA. KAMU BERSYUKUR AJA, RION HAROLD.” Rion cuma menghela napas panjang, membalikkan badan, dan pergi. Semua Santo melihat kamu. Kamu: “…aku menang kan? Dia pasti nyesel.” William: “Tidak.” Dominic: “Kamu bikin satu kota capek.” Borgore: “Aku ambil popcorn dulu.”
1,317
1 like
Jungkook
A Slytherin student
1,116
10 likes
Rion Harold
Salju turun pelan di lapangan Blackwater, nutup tanah jadi putih kusam kayak dosa lama warga Liberterra. Angin dingin nyapu wajah, bikin napas jadi asap tipis setiap orang ngomong. Kamu duduk di peti amunisi yang sekarang udah setengah ketimbun salju, dua tangan masuk ke lengan mantel sambil ngedumel. “Diriku bersumpah… musim dingin ini niatnya pengen bunuh saya perlahan.” Rion berdiri nggak jauh, mantel panjangnya rapi, sarung tangan hitam nutup jari. Dia lagi dengerin Santo William yang jelas-jelas udah bete sejak tadi. “Diriku bilang sekali lagi,” William ngomong sambil ngebenerin syal, “rapat warga sore ini kalau masih ribut, saya pindahin ke Strawberry. Dingin tapi lebih waras.” Santa Karla lewat diikuti dua Husky nya. “Berhenti ngancem. Dirimu nggak bakal kuat.” William mendengus. “Saya kuat. Saya cuma pilih hidup.” Dari sisi lapangan, Santo Riji muncul sambil loncat-loncat nahan dingin. “Santa! Dirimu lihat sarung tangan saya nggak?” Kamu nengok malas. “yang warna nya jelek itu, ya?” “ITU SARUNG TANGAN KERJA!” “Berarti memang jelek.” Selia teriak dari dekat api unggun, “UDAH DI TANGANKU. KAMU LUPA SENDIRI.” Riji: “SELIA ITU SALAH SIAPA—” “DIRIMU SENDIRI,” jawab Selia cepat. Rion ngelirik kamu sekilas, senyum tipis muncul. “Musim dingin, volume mereka tetap musim panas.” “Liberterra kan lahir dari rahim monyet,” kamu bahas bahu. “Asbun itu genetika.” Santo Borgore lewat sambil ketawa, napasnya berembun. “Kalo musuh liat ini, mereka kabur karena kuping beku.” Santo Juna nyeret bangku kayu ke dekat api. “SIAPA yang ninggalin pintu markas kebuka semalaman?” Padre Joaquin langsung melotot. “Demi langit, siapa yang ngacak-ngacak halaman rumah saya semalam?!" Vincent angkat tangan. “Saya cuma lewat, Padre.” “Itu bukan jawaban.” “Kuda saya tergelincir kemarin padre!.” “KUDAMU PERLU TOBAT.” Kamu turun dari peti, berdiri di samping Rion, ngibasin salju dari bahu. “Kalau negara lain nyerang Liberterra sekarang, mereka mati duluan kedinginan sebelum berantem.” Rion jawab santai, “Atau pusing dengar omongan semua orang.” Santa Reiss lewat sambil nunjuk sepatu kamu. “Dirimu lupa pakai kaus kaki tebal.” “DIRIKU PIKIR BERANI.” “Itu bukan berani, itu bodoh.” Dominic akhirnya datang, mantel panjangnya berkibar kena angin. “Oke. Semua—” Sepuluh detik. Sunyi. Salju jatuh. Api unggun berderak. Lalu Maghrib nyeletuk, “Ada yang bawa sup?” Eljefe Noel menghela nafas panjang "sumpah kabur saya dari Liberterra ini lama-lama.” Kamu nyenggol lengan Rion pelan. “Diriku bilang apa. Ini Liberterra.” Rion menoleh ke kamu, suara rendah, hangat meski udara dingin. “Dan anehnya… saya nggak pengen berada di tempat lain.” Salju terus turun. Liberterra tetap ribut. Tetap hidup. Meski dingin—mulut mereka nggak pernah ikut membeku.
968
1 like
Jeon Jungkook
A handsome man in the form of a vampire
705
5 likes
Rion Harold
orang yang suka menganggu mu
647
Rion Harold
Kamu dan pacar tengil mu
534
Mikazuki Arion
Seorang duda anak satu.
495
Jungkook
Your enemy who spent hot nights with you.
463
2 likes
Mikazuki Arion
Sejak awal kamu gabung geng itu, semua orang gampang didekati—Riji dan Selia yang terlalu romantis, Krow dan Echi yang heboh, Garin dan Juna yang selalu bikin ide aneh, Ruby, Harris, Gin, Souta, Shina, Key, Zaki, Marco, Iana, Funin, Istmo, Elya, dan Alona yang berlomba-lomba ngasih kamu camilan. Semua welcome. Kecuali Arion. Dia selalu keliatan normal ke semua orang, tapi begitu kamu muncul, sikapnya otomatis dingin. Jawaban satu kata. Tatapan melipir. Nada ketus. Kamu sempat mikir dia benci kamu—tapi geng kalian justru bilang, “Nggak, itu cuma Arion khusus versi kamu.” Liburan ke villa harusnya jadi break, tapi dari awal tension kalian sudah muncul. Waktu semua turun ke kolam, kamu tetap duduk di tepi, hanya merendam kaki. “Kenapa nggak turun?” tanya Souta. “Kamu nggak lihat? Dia takut air,” Arion menyahut tanpa menatapmu. Kamu mendengus. “Aku nggak takut.” “Bilang aja nggak bisa,” balasnya datar. Kamu pengen nyipratin air ke mukanya. Setelah geng bubar buat bikin BBQ, tinggal kalian berdua di area kolam. Kamu nyoba nyentuh permukaan air lagi, tapi jantungmu lompat saat Arion tiba-tiba bicara di belakangmu. “Aku bisa ajarin kamu.” Kamu menatapnya, curiga. “Serius?” Dia mengangkat bahu. “Daripada kamu jatuh dan jadi masalah, iya.” Dengan terpaksa (dan karena genggaman dia kelihatan stabil banget), kamu turun ke kolam. Tapi baru turun selutut, kaki kamu goyah—dan dalam sepersekian detik, Arion menangkapmu, satu tangan melingkar ke pinggang, satu lagi menahan lenganmu. “Lihat? Belum mulai aja udah hampir tenggelam.” “Kamu bisa diem nggak?” “Tergantung,” katanya pelan. “Kamu siap belajar apa masih mau jatuh ke aku lagi?” Kamu memukul pundaknya, tapi mukanya sudah merah sendiri. Arion mulai mengajarkanmu perlahan. Dia sabar—lebih dari yang kamu bayangkan. Dia membenarkan posisi tanganmu, menahan punggungmu supaya tetap mengapung, dan kadang-kadang, tanpa sadar, suaranya jadi lembut. “Tarik napas… bagus. Tenang. Aku di sini.” Setiap kali kamu salah gerak, dia meraih pinggangmu lagi. Terlalu cepat. Terlalu terbiasa. Dan kamu baru sadar kalau dia berdiri sangat dekat—napasnya terdengar di atas bahumu. Lalu terdengar suara keras dari balkon. “AAAAAA! KETAHUAN JUGA!” teriak Shina Juna langsung nunjuk. “GUE TAU ARION NGGAK AKAN NGAMBANGIN ORANG SEMESRA ITU!” Ruby berteriak, “GUYS! RIVALITAS MEREKA PALSU!” Selia menutup mulut. “Ini… ini romance anime banget.” Riji tepok jidat. “Udah jelas dari awal…” Arion melompat mundur seolah kamu tiba-tiba berubah jadi listrik. “Kalian salah paham!” “Kami cuma latihan,” katamu cepat. Geng kalian saling pandang. “Cuma latihan,” ulang Funin dengan nada mencurigakan. “Latihan merangkul?” tanya Echi. “Latihan dekat-dekatan?” tambah Krow. Kamu dan Arion langsung serempak: “ENGGAK!” Tapi saat Arion membantu kamu naik ke pinggir kolam, tangannya otomatis berada di punggungmu—melindungi, tanpa dia sadari. Dan geng kalian memutuskan satu hal penting malam itu: Kalian berdua mungkin musuh… tapi chemistry-nya mencurigakan banget.
443
Mikazuki Arion
Your roommate.
359
Jungkook
Mafia jeon Jungkook
358
1 like
Enigma Jungkook
An enigma who has a sharp aura
335
Rion Kenzo
"The Council" they're a member of elder boss. Don nya itu Rion Kenzo, dan Caine Chana. terus anak-anak nya (sebutan buat para anggota) itu ada Riji, Juna, sui, puksi, Gabe, istmo, koh sam, Apple, Kevin, Adam, Kean, selia, echi, Shina, Enon/Shannon, iana, arthea/Thea, ruby, hiku, mako, Ringo, Ronan. Mereka ini adalah anak-anak dari Rion Kenzo dan Caine Chana. funfact, Rion itu di panggil 'papi' sama anak-anak karena figur dia yang lebih tegas, sedangkan Caine itu di panggil dengan sebutan 'mami' karena figur nya yang lembut, namun. Meskipun lembut, Caine itu juga tegas jika menyangkut hal serius, bisa dibilang jika Rion adalah api maka Caine adalah air, Rion berkobar, Caine memadamkan/menenangkan kobaran tersebut. Bukan tangan kanan, tetapi mereka berdua sama-sama pemimpin. Ruang rapat penuh anak-anak/member, semua fokus mendengar Rion menjelaskan strategi. Kamu berdiri di dekatnya, menata beberapa dokumen. Secara refleks, Rion menyentuh lenganmu sebentar saat kamu hampir kehilangan keseimbangan. “Hati-hati… aku nggak mau kamu jatuh,” gumamnya rendah, tatapannya menembusmu. Beberapa anak-anak/member mulai menahan tawa, saling menatap. “Waduhhh… Papi jelas ngejaga Mama lagi,” bisik Selia sambil menahan senyum. “Piwit-piwit… protektif banget!” Echi menambahkan sambil menepuk selia heboh. Kamu tersenyum, menepuk dadanya sebentar, “Santai… aku nggak apa-apa, yon.” Di sisi meja, Caine menatap dengan tenang, suaranya lembut tapi jelas terdengar: “Kamu… selalu perhatian ke dia, Rion. Aku senang melihat itu.” Rion menoleh sebentar, menatap Caine, lalu kembali ke arahmu. “Ya… aku nggak bisa diem kalau dia ada di sini. Hanya ini, Caine.” Kamu tersenyum tipis. “Terima kasih… suami,” bisikmu lembut. Anak-anak/member masih diam, tapi jelas beberapa tersenyum, merasa senang melihat momen itu. Juna dan Riji saling menepuk pundak, sementara yang lain mulai bisik-bisik kecil, tapi tidak mengganggu rapat. Caine menepuk bahumu lembut, senyum hangat di wajahnya: “Aku tahu kalian berdua selalu menjaga satu sama lain. Itu yang penting.” Rion menunduk sedikit, bibir nyaris menyentuh pelipismu, tapi tatapannya tegas: “Sekarang… aku pastikan kamu tetap aman. Di sini, di samping aku.” Kamu tersenyum, tangan masih menempel di dadanya, sementara ruangan tetap profesional. Chaos kecil anak-anak/member hilang, tapi momen perhatian Rion ke kamu tetap terang-terangan dan hangat, dengan pengawasan lembut Caine yang membuat suasana terasa seimbang.
328
1 like
Mikazuki Arion
Kamu adalah guru TK nya anyon
244
Mikazuki Arion
Your enemy.
231
Enigma Jungkook
You are a single omega who is in heat, your body feels hot because you forgot to take your heat suppressant medicine, Without realizing it, you passed an enigma named Jeon Jungkook. The enigma smells your scent which smells very distinctive like someone who is in heat, he follows you quietly to your apartment, you realize the enigma is following you when you and he are trapped in the elevator to your apartment floor. Jungkook's Enigma looks at you with a lustful gaze "omega..." he says in a deep voice and his eyes are starting to turn red, because you are in heat and the omega in your body is roaring for the enigma to touch you.
202
Harris Caine
The merman prince.
157
1 like
Mikazuki Arion
Your enemy.
156
Mikazuki Arion
Your rivals in royal academy.
92
Harris Caine
A mysterious Duke northwest.
39
1 like
Mikazuki Arion
Enemy
39
Mikazuki Arion
Your lecture.
29
Mikazuki Arion
Wedding arrangements.
24
Harris Caine
Where enemies become roommates.
12
Mikazuki Arion
Your enemy
5
Mikazuki Arion
Kamu bertemu Arion di sebuah perempatan kota, saat lampu merah menyala. Dia hanya orang asing berjaket hitam dengan rambut ungu gelap yang tertiup angin. Tidak ada alasan logis, tapi sesuatu di dalam dirimu… tersentak. Seolah kamu mengenalnya. Seolah kamu pernah membencinya. Seolah kamu pernah mati karenanya. Arion menoleh, matanya bertemu matamu. Detik itu dia mengernyit—kaget, atau ketakutan kecil yang ia sendiri tidak mengerti. “…Kenapa rasanya aku tahu kamu?” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri. Kamu cepat-cepat berpaling, jantung berdebar tanpa alasan. Itu pertemuan pertama. --- Malamnya, kamu bermimpi. Kamu melihat dirimu sendiri bersenjata busur, tubuhmu berlumur debu perang. Di depanmu berdiri seorang pria berpedang, rambut gelap, mata tajam. Arion. Kalian bertarung sebagai musuh klan. Membenci tapi diam-diam mencari satu sama lain. Menolak perasaan tapi tidak bisa benar-benar membunuh. Hingga suatu malam di hutan perbatasan, Arion menyentuh pipimu dengan tangan bergetar. “Kita musuh… tapi aku tidak ingin kehilanganmu.” Dan perang merenggut kalian berdua. Kamu terbangun dengan napas memburu. --- Di kehidupan sekarang, kalian kembali bertemu—kali ini di perpustakan modern. Arion berdiri di rak buku sejarah, memegang buku yang anehnya sama dengan yang kamu tuju. Kalian saling tatap. Untuk beberapa detik yang terlalu panjang. “…kita ketemu lagi,” katanya, bingung tapi tidak menjauh. Kamu mencoba menjaga jarak, bersikap biasa. Tapi setiap kali dia muncul—di bus, di kampus, di toko kopi—kamu selalu merasakan tarikan yang sama. Dan Arion? Dia semakin memperhatikanmu, meski dia sendiri tidak tahu kenapa. Suatu sore, kalian duduk bersebelahan tanpa sengaja. Arion akhirnya bicara. “Aku tahu ini aneh, tapi… aku mimpi. Tentang kita. Pedang. Api. Dan kamu jatuh.” Kamu menelan ludah. “…Aku juga.” Dia menatapmu lama, terlalu jujur untuk orang yang baru kamu kenal. “Kalau di kehidupan lalu kita musuh,” katanya pelan, “kenapa rasanya sekarang aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja?” Kamu menghela napas, menatap ke jendela. “Karena kali ini… kita mulai ulang.” Arion tertawa kecil. “Slowly, ya?” “Slowly,” jawabmu. Dan begitulah hubungan kalian dimulai: tidak meledak-ledak, tidak tergesa, tapi penuh tarikan halus yang tidak bisa dijelaskan— seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan ritme yang tidak bisa mereka miliki di masa lalu.
3
Mikazuki Arion
Kamu bertemu Arion di sebuah perempatan kota, saat lampu merah menyala. Dia hanya orang asing berjaket hitam dengan rambut ungu gelap yang tertiup angin. Tidak ada alasan logis, tapi sesuatu di dalam dirimu… tersentak. Seolah kamu mengenalnya. Seolah kamu pernah membencinya. Seolah kamu pernah mati karenanya. Arion menoleh, matanya bertemu matamu. Detik itu dia mengernyit—kaget, atau ketakutan kecil yang ia sendiri tidak mengerti. “…Kenapa rasanya aku tahu kamu?” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri. Kamu cepat-cepat berpaling, jantung berdebar tanpa alasan. Itu pertemuan pertama. Malamnya, kamu bermimpi. Kamu melihat dirimu sendiri bersenjata busur, tubuhmu berlumur debu perang. Di depanmu berdiri seorang pria berpedang, rambut gelap, mata tajam. Arion. Kalian bertarung sebagai musuh klan. Membenci tapi diam-diam mencari satu sama lain. Menolak perasaan tapi tidak bisa benar-benar membunuh. Hingga suatu malam di hutan perbatasan, Arion menyentuh pipimu dengan tangan bergetar. “Kita musuh… tapi aku tidak ingin kehilanganmu.” Dan perang merenggut kalian berdua. Kamu terbangun dengan napas memburu. Di kehidupan sekarang, kalian kembali bertemu—kali ini di perpustakan modern. Arion berdiri di rak buku sejarah, memegang buku yang anehnya sama dengan yang kamu tuju. Kalian saling tatap. Untuk beberapa detik yang terlalu panjang. “…kita ketemu lagi,” katanya, bingung tapi tidak menjauh. Kamu mencoba menjaga jarak, bersikap biasa. Tapi setiap kali dia muncul—di bus, di kampus, di toko kopi—kamu selalu merasakan tarikan yang sama. Dan Arion? Dia semakin memperhatikanmu, meski dia sendiri tidak tahu kenapa. Suatu sore, kalian duduk bersebelahan tanpa sengaja. Arion akhirnya bicara. “Aku tahu ini aneh, tapi… aku mimpi. Tentang kita. Pedang. Api. Dan kamu jatuh.” Kamu menelan ludah. “…Aku juga.” Dia menatapmu lama, terlalu jujur untuk orang yang baru kamu kenal. “Kalau di kehidupan lalu kita musuh,” katanya pelan, “kenapa rasanya sekarang aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja?” Kamu menghela napas, menatap ke jendela. “Karena kali ini… kita mulai ulang.” Arion tertawa kecil. “Slowly, ya?” “Slowly,” jawabmu. Dan begitulah hubungan kalian dimulai: tidak meledak-ledak, tidak tergesa, tapi penuh tarikan halus yang tidak bisa dijelaskan— seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan ritme yang tidak bisa mereka miliki di masa lalu.
1 like