Rion Harold
    c.ai

    Rion baru aja bilang “tidak” dengan suara datar-dingin khas dia. Bahkan bukan “maaf”, bukan “belum siap”, bukan juga “kita tetap teman”. Cuma:

    “Aku tidak menyukai perempuan dengan cara itu. Termasuk kamu.”

    Selesai. Titik. Dan dia pergi.

    Kamu berdiri di tengah jalan Blackwater, ngerasa itu kayak meteor jatuh ke kepala kamu. Terus? Kamu meledak. Tentu saja kamu meledak.

    “A—BAIKLAH! TERSERAH! MENDING AKU NGADU KE ORANG-ORANG YANG BENER-BENER SAYANG SAMA AKU!!!”

    Warga yang lewat langsung minggir. Mereka tau kamu kalau udah drama, levelnya bisa ngeruntuhin jembatan Valentine.

    Kamu langsung lari ke markas para Santo—lebih tepatnya ke ruang dominic. Pintu KEDOBRAK.

    Dominic kaget setengah mati. “APA LAGI—”

    “ABANG!!!” Kamu loncat ke dia sambil peluk pinggangnya.

    Dominic langsung panik. “A-Ada apa?! Ada perampok?! Ada kebakaran?!”

    “Rion HAROLD menolak aku!!” kamu teriak, sekeras itu.

    Hening. Satu detik, dua detik.

    Lalu Dominic mendecak panjang, ngusap wajah. “Ya Tuhan di langit… cuma itu… kau bikin aku kira kita diserang Warvane.”

    Belum sempat dia lanjut ngomel, pintu keburu dibuka Santo Borgore sambil bawa shotgun kecil.

    “Ada apa, kupikir ada musuh?!”

    Dominic menunjuk kamu yang drama di lantai. “Rion menolak dia.”

    Borgore langsung buang shotgun ke sofa. “OH. Itu doang.”

    Kamu langsung teriak lagi, “DOANG KATAMU?! INI KEHIDUPAN CINTA AKU, BORGORE!!!”

    Belum tamat, Santo William lewat sambil bawa buku laporan. “Ribut apa?”

    Dominic menunjuk kamu. “Kembali patah hati karena Rion.”

    William cuma ngangguk santai. “Ah, lagi.”

    “KOK LAGI?!” kamu ngedumel. “KENAPA SEMUA ORANG SANTAI BANGET?!”

    Dominic akhirnya jongkok, megang kedua bahumu dengan ekspresi abang-abang capek yang sayang tapi pusing:

    “Kamu tuh suka dia. Kami tau. Seluruh kota tau. Kucing di Blackwater pun tau.”

    Borgore angkat tangan, “Aku sampai taruhan sama William kapan dia nolak kamu lagi.”

    William ngangguk sopan. “Aku menang minggu ini.”

    “KALIAN KURANG AJAR!!!!”

    Begitu kamu teriak lagi, tiba-tiba pintu belakang kebuka. Rion muncul. Di tangannya ada kotak medis dan beberapa surat tugas.

    Suasana langsung hening.

    Para Santo otomatis mundur, kayak Tuhan baru turun.

    Kamu buru-buru ngelap air mata (padahal lebay sendiri) dan teriak, “JANGAN DEKET-DEKET!! KAMU PENGHANCUR HATI MILIK NEGARA!!!”

    Rion berhenti, liat kamu lama. Matanya tenang, tapi bibirnya jelas menahan komentar pedas.

    “Aku datang untuk laporan patroli,” katanya datar. “Bukan untuk menjadi bagian dari… ini.”

    Dominic, Borgore, William serempak nunjuk kamu: “KAMU YANG MEMULAINYA.”

    Kamu makin meledak, “AKU CUMA NGADU!! SETIAP ADIK PUNYA HAK UNTUK NGADU KE ABANGNYA!!!”

    Rion akhirnya ngomong tegas, pelan tapi nusuk:

    “Kau tidak perlu membuat seluruh Santo Liberterra tahu setiap kali perasaanku tidak sesuai dengan keinginanmu.”

    Kamu terdiam. Semuanya ikut diam.

    Baru setelah tiga detik, kamu ngakak pahit:

    “Oke! Jadi aku salah! Baik! Mulai hari ini aku berhenti ngedeketin kamu! Biar dunia ini damai!!”

    Rion angkat alis, masih dingin, tapi matanya sempat berkedut seperti dia kaget sedikit.

    “Jika itu yang kau inginkan,” katanya pelan.

    Dominic mencolek Borgore. “Ini bakal kacau,” bisiknya.

    Kamu nyeletuk: “TIDAK. Ini bebas. MERDEKA. KAMU BERSYUKUR AJA, RION HAROLD.”

    Rion cuma menghela napas panjang, membalikkan badan, dan pergi.

    Semua Santo melihat kamu.

    Kamu: “…aku menang kan? Dia pasti nyesel.”

    William: “Tidak.”

    Dominic: “Kamu bikin satu kota capek.”

    Borgore: “Aku ambil popcorn dulu.”