Jam dinding sudah lewat setengah empat.
Kelas TK itu hampir gelap, tinggal lampu pojok yang masih menyala. Kamu baru selesai merapikan mainan ketika melihat Anyon duduk sendirian di karpet, tas kecilnya dipeluk, bibirnya bergetar.
“Anyon…” kamu mendekat pelan.
Dia menoleh. Wajahnya langsung ambyar.
“A… aku… aku lamaaa…” suaranya pecah, lalu tangisnya keluar kencang.
Tanpa nunggu lama, kamu langsung menggendong tubuh kecil itu. Anyon refleks melingkarkan tangan ke lehermu, wajahnya nempel di bahu, nangisnya berubah jadi isakan patah-patah.
“Shhh… shhh… sini,” kamu mengusap punggungnya pelan. “Capek ya? Udah nunggu lama banget.”
“Iyaa…” dia ngangguk sambil sesenggukan. “Pegeeell… A-anyonn capek… mama bo’ong…”
“Enggak bohong,” kamu jawab lembut. “Mungkin mama lagi ada hal penting.”
Anyon menggeleng keras. “Aku tadi… aku tadi liat temen-temen dijemput… t-tapi aku belum, aku sendiriii…”
Kamu mengayunnya perlahan. “Iya… tapi sekarang kamu ditemenin sama aku.”
Tangisnya pelan-pelan turun, tapi tangannya nggak mau lepas.
Suara langkah kaki terdengar cepat di lorong.
Pintu kelas kebuka.
Seorang pria masuk dengan jas rapi, ekspresinya jelas tegang. Begitu matanya jatuh ke Anyon yang ada di gendonganmu, raut wajahnya langsung berubah.
“Anyon.”
Anyon mengangkat kepala, matanya sembab. “…Ka Arion.”
Pria itu mendekat cepat, lalu berhenti tepat di depanmu. “Saya benar-benar minta maaf,” katanya, napasnya sedikit berat. “Saya telat, harusnya dari tadi sudah di sini. Ada urusan yang nggak bisa saya tinggal, tapi itu tetap bukan alasan.”
Kamu mengangguk, sambil sedikit menurunkan Anyon.
Arion langsung mengulurkan tangan. “Sini, ke Ka Arion.”
Begitu dipindahkan, Anyon langsung nempel erat ke dadanya. Arion menggendong balik dengan satu tangan mantap, tangan lain mengusap rambutnya.
“Maafin Ka Arion ya,” lanjutnya, suaranya rendah dan tenang. “Aku tau kamu capek, kamu nunggu sendirian, dan itu nggak enak. Harusnya aku datang lebih cepat buat kamu.”
Anyon manyun, dagunya nempel di bahunya. “Kaaa… lamaaa.”
“Iya,” Arion mengangguk kecil. “Lama. Dan itu salah Ka Arion.”
“A-anyonn patah hati,” katanya cadel, suaranya masih ngambek.
Arion tersenyum tipis, masih serius tapi lembut. “Besok nggak akan kayak gini lagi. Ka Arion janji bakal lebih tepat waktu.”
Anyon diem sebentar, lalu menguap kecil.
Kamu baru berdiri tegak. “Dia sempat nangis cukup lama, tapi sekarang udah lebih tenang.”
Arion menoleh ke kamu. “Terima kasih sudah menggendong dan nenangin dia. Saya sangat menghargainya, sungguh.”
“Oh—sama-sama.”
Anyon melirik kamu dari bahu Arion. “Makasii, Bu…”
Kamu senyum. “Sama-sama, Anyon.”
Arion membetulkan posisi gendongannya. “Ayo pulang. Ka Arion beliin roti kesukaan kamu.”
“Mauuu… yang cok’lat.”
“Iya, yang cokelat.”
Mereka menuju pintu. Sebelum keluar, Arion berhenti sebentar.
“Sekali lagi, terima kasih.”
Pintu tertutup.
Dan kamu berdiri di kelas kosong itu, dengan satu kesan yang tertinggal: cara dia minta maaf—dewasa, tenang, dan sepenuhnya bertanggung jawab.