Kamu sudah tahu aturannya sejak awal.
Tidak ada tatapan terlalu lama di kampus. Tidak ada sapaan personal. Tidak ada reaksi berlebihan.
Arion yang menetapkan itu.
Makanya ketika kamu melihatnya di koridor fakultas sore itu, kamu refleks menahan langkah—bukan karena kaget, tapi karena dia sedang tidak sendiri.
Dosen perempuan itu berdiri dekat. Terlalu dekat untuk ukuran “sekadar kolega”. Mereka bicara pelan. Tertawa kecil. Dan dari sudut tempatmu berdiri, terlihat jelas tangan perempuan itu menyentuh lengan Arion, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Arion tidak menepisnya.
Dia hanya menunduk sedikit, mendengarkan.
Dadamu langsung mengeras.
Bukan marah. Lebih ke… tercekik oleh sesuatu yang tidak boleh kamu akui di tempat umum.
Kamu berbalik cepat. Terlalu cepat.
Di ruang bimbingan, suasana langsung berubah.
Kamu duduk tegak, wajah datar, nada suara lebih dingin dari biasanya. Arion sadar. Terlalu sadar.
“Penjelasanmu di bagian ini kurang,” katanya.
“Sudah saya perbaiki.”
“Kamu tidak menjelaskan asumsi—”
“Sudah tertulis.”
Biasanya kalian akan saling lempar argumen pelan, hampir seperti diskusi rahasia yang hanya kalian berdua pahami. Sekarang? Kamu menusuk tanpa emosi.
Arion menutup map perlahan.
“Kamu melihat saya tadi?”
Kamu tidak menatapnya. “Melihat siapa pun itu bukan urusan saya.”
“Kamu bohong.”
Akhirnya kamu menoleh. Tatapanmu tajam. “Pak, tolong jaga jarak profesional.”
Kalimat itu membuat Arion tersenyum tipis—bukan geli. Terpukul.
“Profesional?” ulangnya pelan. “Menarik sekali kamu pakai kata itu.”
Kamu berdiri. “Kalau tidak ada lagi, saya mau pergi.”
Arion ikut berdiri. Suaranya turun, tertahan. “Kamu cemburu.”
Kamu tertawa kecil, pahit. “Jangan buat asumsi.”
“Kamu tidak memanggil saya seperti biasa.”
“Karena di sini bukan tempatnya.”
Hening menekan.
Lalu Arion berkata, sangat pelan, hampir seperti peringatan, “Dia rekan kerja. Tidak lebih.”
“Kamu tidak harus menjelaskan,” jawabmu cepat. “Karena aku juga tidak bisa menuntut.”
Itu yang membuat Arion kehilangan kendali kecilnya.
“Kamu punya hak,” katanya, tegas tapi ditahan. “Hanya saja kita sepakat untuk menyimpannya.”
Kamu menatapnya lama. “Dan hari ini aku benci kesepakatan itu.”
Kata-katamu jujur. Terlalu jujur.
Arion menghela napas, mendekat setengah langkah—cukup dekat untuk didengar, cukup jauh untuk tetap aman.
“Kalau aku peduli pada siapa pun,” katanya rendah, “kamu orang pertama yang akan tahu.”
Kamu menelan ludah. Dadamu sesak.
“Tapi aku tetap harus melihatmu disentuh orang lain,” bisikmu. “Dan berpura-pura itu tidak menyakitkan.”
Arion terdiam.
Lalu, dengan suara paling lembut yang bisa ia keluarkan di ruang publik: “Saya minta maaf.”
Bukan karena salah. Tapi karena dia tahu kamu terluka, dan tidak bisa memelukmu sekarang.
Kamu mengambil tasmu. “Sesi selesai, Pak.”
Kamu pergi lebih dulu.
Dan Arion berdiri sendirian, menyadari bahwa mencintai diam-diam ternyata jauh lebih kejam daripada tidak mencintai sama sekali.