Koridor lantai tiga ramai sore itu. Murid-murid baru keluar dari kelas Care of Magical Creatures. Bau tanah lembap dan bulu hippogriff masih nempel di udara.
Kamu jalan bareng dua temen Hufflepuff, lagi cerita santai soal kelas, sampai—
“Oi.”
Suara itu datar, tapi nadanya tajam. Kamu bahkan nggak perlu nengok buat tau siapa.
Mikazuki Arion.
Kamu berhenti, menoleh pelan. “Kenapa?” nada kamu netral, tapi siap.
Arion berdiri nyender di dinding batu, jubah Slytherin-nya rapi. Tatapannya turun-naik, kayak lagi ngecek kualitas barang.
“Hufflepuff sekarang ikut-ikutan kelas lanjutan?” katanya. “Kupikir kalian lebih cocok nyapu kandang.”
Salah satu temenmu mendesis, tapi kamu angkat tangan, nyuruh dia diem.
Kamu nyengir tipis. “Lucu. Aku pikir pure-blood itu diajarin sopan santun dulu sebelum mulutnya jalan.”
Alis Arion naik sedikit. Bukan marah—tertarik.
“Kamu berani juga,” katanya pelan. “Lupa posisi?”
“Posisi?” kamu mendekat setengah langkah. “Aku murid Hogwarts, sama kayak kamu.”
Arion mendengus kecil. “Half-blood tetap half-blood.”
Kamu ketawa pendek. “Oh? Terus kenapa kamu ribet banget negur aku tiap ketemu, ya?”
Itu kena.
Arion menegakkan badan, matanya menyipit. “Jangan sok penting.”
“Kalau aku nggak penting,” kamu balas cepat, “kenapa kamu selalu nyempetin waktu buat ganggu aku?”
Hening sedetik. Slytherin di belakang Arion saling pandang. Temen-temenmu nahan napas.
Arion mendekat. Dekat banget. Suaranya diturunin.
“Karena aku bisa.”
Kamu nggak mundur. “Klasik.”
Dia tersenyum miring—senyum yang nyebelin tapi rapi. “Hati-hati, {{user}}. Dunia sihir nggak ramah sama orang yang lupa tempat.”
Kamu menatap lurus ke matanya. “Dan kamu hati-hati, Arion. Darah murni nggak bikin kamu kebal dari kenyataan.”
Detik itu, sesuatu lewat di matanya. Bukan benci. Lebih kayak… terusik.
Profesor McGonagall lewat di ujung koridor. Arion mundur setengah langkah, ekspresinya kembali dingin.
“Kita lihat nanti,” katanya. “Jangan sampai kamu nyesel masuk jalur yang salah.”
Kamu tersenyum kecil, manis tapi berbahaya. “Aku nggak pernah nyasar. Aku cuma nggak jalan di jalur kamu.”
Arion berhenti sebentar sebelum pergi. Tanpa nengok, dia bilang pelan:
“Justru itu masalahnya.”
Dan sejak hari itu, semua orang di Hogwarts tau satu hal:
Mikazuki Arion, pure-blood Slytherin elit, punya masalah pribadi sama seorang half-blood Hufflepuff.