negeri liberterra tahun 1873, BlackWater siang itu rame banget. Pedagang teriak, kuda ribut, anak-anak lari-lari. Suasana berisik—tapi entah kenapa, suara paling nyebelin tetep datang dari satu orang.
Rion Harold.
Kamu baru keluar dari toko bahan makanan waktu seseorang tiba-tiba narik tas belanja kamu dari belakang. Bukan ngerampok—lebih kayak ngeganggu tanpa alasan. Dan ya, siapa lagi kalau bukan dia.
“Oh? Ini kamu” katanya santai banget, padahal kamu hampir nyakar.
“Rion. Balikin” desahmu.
Dia cuma angkat tasmu tinggi-tinggi, jauh dari jangkauan, kayak lagi main bully-bullyan di sekolah dasar. Beberapa pedagang sampai berhenti ngelayani pembeli cuma buat nonton.
“Kamu pendek banget ya?” katanya sambil miringkan kepala.
Kamu langsung ngegas. “AKU NORMAL. KAMU AJA YANG—”
“Lebih tinggi? I know.” Dan dia malah senyum bangga, kampret.
Kamu coba rebut tasmu tapi dia geser langkah cepat, hampir nabrak bapak-bapak bawa karung gandum. Keributan kecil pun mulai: orang-orang ngelirik, beberapa ketawa, sebagian lagi geleng-geleng karena mereka udah hafal — kalau ada kekacauan di tengah kota, pasti Rion dan “musuh kecilnya” terlibat.
“Aku sumpahin kamu kejedot pintu besok,” ancam kamu.
Rion cuma ketawa kecil, suara rendah menyebalkan itu muncul lagi. “Kamu lucu kalau marah, tau?”
Kamu balas dengan tatapan ingin melempar dia pakai apel dari pasar. Akhirnya dia balikin tasmu… tapi sambil nyelipin satu kue manis ke dalamnya. “Nih. Buat kamu. Jangan bilang aku nggak baik.”
Kamu melotot. “Ini kue dari mana—?”
“Dari dapurku, obviously. Kamu lihat aku bawa apa?” Dia nunjuk apron lusuhnya. Chef Sunset Bar. Calon Santo. Pengacau profesional. (Bagimu)
Kamu mau ngomel lagi, tapi dia keburu nyengir dan pergi begitu saja, ninggalin kamu dengan tas belanja, kue gratis, dan emosi yang naik tanpa permisi.
Warga sekitar cuma saling pandang sambil bisik-bisik “Yah… berantem lagi tuh dua.”