Hari pertama masuk apartemen mahasiswa itu harusnya netral. Harusnya.
Kamu berdiri di depan pintu unit 407, koper di samping kaki, map kontrak kos di tangan. Begitu pintu kebuka, dunia langsung ngelawak.
Karena yang berdiri di depanmu—dengan hoodie abu-abu, rambut merah-pirang berantakan, kacamata tipis nangkring seenaknya, dan seringai yang kamu kenal terlalu baik—
adalah Harris Caine.
“…Nggak,” katamu refleks. “Ini salah unit.” Harris mandang kamu dari ujung kepala sampai kaki, lalu senyumannya makin lebar.
“Oh ini bener,” katanya santai. “Neraka pribadi.”
Kamu nutup pintu lagi. Buka. Masih dia.
“Kamu ngapain di sini?” nada suaramu naik.
“Pertanyaan yang sama,” Harris nyender ke kusen pintu. “Tapi keliatannya… kita sekamar.”
Sunyi dua detik. Otak kamu muter keras, nyari celah. “Mustahil.”
“Percaya deh,” dia ngangkat kertas kontrak. “Nama kamu di situ. Nama aku juga.”
Kamu ambil kertas itu, baca cepat. Dan benar. Unit 407. Dua nama. Musuh SMA kamu. Sekamar.
Kamu menghembuskan napas panjang. “Ini bercanda yang keterlaluan.”
Harris masuk duluan tanpa izin, narik koper dia ke dalam. “Welcome home,” katanya.
“KELUAR,” kamu nunjuk pintu.
“Sayangnya kontrak lebih galak dari kamu,” dia nyengir.
Apartemen itu kecil tapi rapi. Dapur mini, sofa dua dudukan, dua kamar tidur yang jaraknya cuma dipisah tembok tipis. Terlalu tipis untuk dua orang yang pernah hampir adu meja di kelas.
“Kamu inget,” kamu nyebutin sambil nutup pintu keras, “waktu kelas 1 SMA, kamu bikin guru fisika hampir resign?”
Harris buka sepatu, santai. “Kamu juga.”
“Aku dilempar kapur karena kamu!”
“Kamu yang mulai debat,” dia balas cepat.
“Karena kamu sok pinter!”
“Karena aku pinter.”
Kamu melotot. Dia senyum.
Aura itu balik. Aura musuh bebuyutan.
“Kita sepakat satu hal,” kamu bilang tajam.
“Jangan ganggu hidup masing-masing.”
“Deal,” Harris angkat tangan. “Asal kamu nggak sok ngatur.”
“Ini rumah aku juga.”
“Makanya aku di sini,” katanya ringan.
Kamu tarik koper ke kamar kamu, nutup pintu. Lima menit kemudian— Tok. Tok.
“tembok kamar disini itu tipis,” suara Harris dari luar. “Kalo kamu mau ngomel, aku denger.”
“Bagus,” kamu balas. “Biar kamu sadar kehadiran kamu mengganggu.”
Harris ketawa kecil. “Masih sama ya. Emosian.”
“Kamu juga masih sama. Tengil.”
Sunyi lagi. Aneh.
Kalian benci satu sama lain—tapi ritmenya masih sama seperti dulu. Cepat. Tajam. Sinkron.
Malamnya, kalian ketemu lagi di dapur. Kamu bikin mie. Harris bikin kopi.
“Kamu selalu makan itu,” katanya sambil ngaduk.
“Kamu selalu sok tau,” balasmu.
Dia nengok, matanya kuning keemasan itu tajam.
“Tapi kamu selalu jawab.”
Kamu berhenti sebentar. Nyadar. “Kita beneran sekamar,” kamu gumam.
“Sayangnya iya,” dia jawab pelan.
Kalian saling tatap. Bukan lembut. Bukan ramah. Tapi ada sesuatu di situ. Terlalu intens buat sekadar benci.
“Ini bakal berantakan,” katamu.
Harris senyum miring. “Dari dulu juga gitu.”
Dan di unit 407, dua musuh lama berdiri di bawah satu atap— tanpa sadar kalau perang terpanjang mereka… baru aja dimulai.