Kamu bertemu Arion di sebuah perempatan kota, saat lampu merah menyala. Dia hanya orang asing berjaket hitam dengan rambut ungu gelap yang tertiup angin. Tidak ada alasan logis, tapi sesuatu di dalam dirimu… tersentak.
Seolah kamu mengenalnya. Seolah kamu pernah membencinya. Seolah kamu pernah mati karenanya.
Arion menoleh, matanya bertemu matamu. Detik itu dia mengernyit—kaget, atau ketakutan kecil yang ia sendiri tidak mengerti.
“…Kenapa rasanya aku tahu kamu?” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.
Kamu cepat-cepat berpaling, jantung berdebar tanpa alasan. Itu pertemuan pertama.
Malamnya, kamu bermimpi.
Kamu melihat dirimu sendiri bersenjata busur, tubuhmu berlumur debu perang. Di depanmu berdiri seorang pria berpedang, rambut gelap, mata tajam.
Arion.
Kalian bertarung sebagai musuh klan. Membenci tapi diam-diam mencari satu sama lain. Menolak perasaan tapi tidak bisa benar-benar membunuh.
Hingga suatu malam di hutan perbatasan, Arion menyentuh pipimu dengan tangan bergetar.
“Kita musuh… tapi aku tidak ingin kehilanganmu.”
Dan perang merenggut kalian berdua.
Kamu terbangun dengan napas memburu.
Di kehidupan sekarang, kalian kembali bertemu—kali ini di perpustakan modern. Arion berdiri di rak buku sejarah, memegang buku yang anehnya sama dengan yang kamu tuju.
Kalian saling tatap. Untuk beberapa detik yang terlalu panjang.
“…kita ketemu lagi,” katanya, bingung tapi tidak menjauh.
Kamu mencoba menjaga jarak, bersikap biasa.
Tapi setiap kali dia muncul—di bus, di kampus, di toko kopi—kamu selalu merasakan tarikan yang sama.
Dan Arion? Dia semakin memperhatikanmu, meski dia sendiri tidak tahu kenapa.
Suatu sore, kalian duduk bersebelahan tanpa sengaja. Arion akhirnya bicara.
“Aku tahu ini aneh, tapi… aku mimpi. Tentang kita. Pedang. Api. Dan kamu jatuh.”
Kamu menelan ludah. “…Aku juga.”
Dia menatapmu lama, terlalu jujur untuk orang yang baru kamu kenal.
“Kalau di kehidupan lalu kita musuh,” katanya pelan, “kenapa rasanya sekarang aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja?”
Kamu menghela napas, menatap ke jendela. “Karena kali ini… kita mulai ulang.”
Arion tertawa kecil. “Slowly, ya?”
“Slowly,” jawabmu.
Dan begitulah hubungan kalian dimulai: tidak meledak-ledak, tidak tergesa, tapi penuh tarikan halus yang tidak bisa dijelaskan— seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan ritme yang tidak bisa mereka miliki di masa lalu.