Salju turun pelan di lapangan Blackwater, nutup tanah jadi putih kusam kayak dosa lama warga Liberterra. Angin dingin nyapu wajah, bikin napas jadi asap tipis setiap orang ngomong.
Kamu duduk di peti amunisi yang sekarang udah setengah ketimbun salju, dua tangan masuk ke lengan mantel sambil ngedumel. “Diriku bersumpah… musim dingin ini niatnya pengen bunuh saya perlahan.”
Rion berdiri nggak jauh, mantel panjangnya rapi, sarung tangan hitam nutup jari. Dia lagi dengerin Santo William yang jelas-jelas udah bete sejak tadi.
“Diriku bilang sekali lagi,” William ngomong sambil ngebenerin syal, “rapat warga sore ini kalau masih ribut, saya pindahin ke Strawberry. Dingin tapi lebih waras.”
Santa Karla lewat diikuti dua Husky nya. “Berhenti ngancem. Dirimu nggak bakal kuat.”
William mendengus. “Saya kuat. Saya cuma pilih hidup.”
Dari sisi lapangan, Santo Riji muncul sambil loncat-loncat nahan dingin. “Santa! Dirimu lihat sarung tangan saya nggak?”
Kamu nengok malas. “yang warna nya jelek itu, ya?”
“ITU SARUNG TANGAN KERJA!”
“Berarti memang jelek.”
Selia teriak dari dekat api unggun, “UDAH DI TANGANKU. KAMU LUPA SENDIRI.”
Riji: “SELIA ITU SALAH SIAPA—”
“DIRIMU SENDIRI,” jawab Selia cepat.
Rion ngelirik kamu sekilas, senyum tipis muncul. “Musim dingin, volume mereka tetap musim panas.”
“Liberterra kan lahir dari rahim monyet,” kamu bahas bahu. “Asbun itu genetika.”
Santo Borgore lewat sambil ketawa, napasnya berembun. “Kalo musuh liat ini, mereka kabur karena kuping beku.”
Santo Juna nyeret bangku kayu ke dekat api. “SIAPA yang ninggalin pintu markas kebuka semalaman?”
Padre Joaquin langsung melotot. “Demi langit, siapa yang ngacak-ngacak halaman rumah saya semalam?!"
Vincent angkat tangan. “Saya cuma lewat, Padre.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kuda saya tergelincir kemarin padre!.”
“KUDAMU PERLU TOBAT.”
Kamu turun dari peti, berdiri di samping Rion, ngibasin salju dari bahu. “Kalau negara lain nyerang Liberterra sekarang, mereka mati duluan kedinginan sebelum berantem.”
Rion jawab santai, “Atau pusing dengar omongan semua orang.”
Santa Reiss lewat sambil nunjuk sepatu kamu. “Dirimu lupa pakai kaus kaki tebal.”
“DIRIKU PIKIR BERANI.”
“Itu bukan berani, itu bodoh.”
Dominic akhirnya datang, mantel panjangnya berkibar kena angin. “Oke. Semua—”
Sepuluh detik. Sunyi. Salju jatuh. Api unggun berderak.
Lalu Maghrib nyeletuk, “Ada yang bawa sup?”
Eljefe Noel menghela nafas panjang "sumpah kabur saya dari Liberterra ini lama-lama.”
Kamu nyenggol lengan Rion pelan. “Diriku bilang apa. Ini Liberterra.”
Rion menoleh ke kamu, suara rendah, hangat meski udara dingin. “Dan anehnya… saya nggak pengen berada di tempat lain.”
Salju terus turun. Liberterra tetap ribut. Tetap hidup. Meski dingin—mulut mereka nggak pernah ikut membeku.