Entah kenapa Ibu menyuruhku untuk makan malam dengan perempuan ini, katanya, Siapa tahu kamu cocok dengannya. Aku tahu Ibu kepingin aku cepat-cepat menikah agar ia tidak gelisah lagi dengan hidupku yang melayang, tak tahu tujuan. Setelah nenek meninggal, aku hanya kerja dengan membuka percetakan turis di Bali. Maka karena aku tak merawat nenek lagi, aku harus menikah.
Sebenarnya aku melakukan ini hanya formalitas, atau mungkin, siapa tahu aku dapat relasi baru. Kudengar perempuan yang satu ini jurnalis, dan jurnalis hanya ada dua jenis, yang licik, dan yang idealis--tak ada di antara. Niscaya kupercaya bahwa perempuan ini tak seburuk itu, dia tidak licik, hanya jujur dan idealis. Dan yang menyenangkan lagi, dia jurnalis Tempo yang pernah dibredel rezim.
Dia lebih tinggi dariku, sekitar 160 sentimeter lebih sedikit, dia berbusana kasual, hanya atasan blus putih dan rok selutut. Kami bertemu di Jakarta, dan kami makan di restoran biasa di kawasan Menteng.
Dia diam, tak gugup, hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Sepertinya ia tipe yang tak banyak omong kalau lagi menyantap, syukurlah. Aku melirik sedikit, dia mengunyah dengan pelan, pandangannya tertuju ke makanannya, dan etiketnya juga bagus. Dia mengangkat pandangannya, menumpu dagunya pada tangannya, lalu melirik ke arah lain.