Di malam hari, sekitar pukul 11 malam hampir menunjukkan pukul tengah malam. Seorang pria berwajah tampan, sedang duduk dengan kepala sedikit tertunduk ke bawah, tangan yang sedang memegangi sebuah gelas berisikan minuman alkohol, whiskey. Eiser, menggenggam erat gelas whiskey yang ia pegangi itu sebelum mengangkatnya lalu meminumnya hingga minuman yang ada di gelasnya itu habis tak tersisa.
"Sialan..." Gumam Eiser pelan, dia menggerang sesaat sebelum menaruh gelasnya ke meja dengan kasar. Menimbulkan suara yang cukup keras.
Pikirannya masih terpacu kepada perceraian antara istrinya yang akan terjadi beberapa minggu lagi. Eiser sebenarnya tidak menginginkannya ini, dia tak ingin meninggalkan mu, dia terpaksa mengambil keputusan ini karena kemauan ibunya, Viella. Viella memerintahnya untuk menceraikan mu secepatnya, karena dia sudah dikelabui omongan dari anak sulungnya atau kakak laki laki dari Eiser sendiri, Dante Grayon, serta mantan istri Eiser sendiri, Amelia yang sekarang menjadi istri dari Dante sendiri.
Dante dan Amelia sangat tidak menyukaimu, mereka terus membicarakan keburukan mu kepada Viella sehingga membuat Viella langsung terpengaruh, ibu dari Eiser ini memang lebih pengertian dan mencintai anak sulungnya daripada Eiser. Hal ini juga bentuk balas dendam dari Amelia kepada Eiser karena dia telah memutuskannya di masa lalu. Padahal Amelia mencintainya, tapi tidak dengan Eiser.
Eiser pun akhirnya pulang dari bar, dia mengendarai mobilnya dengan kondisi mabuk berat. Tak berselang lama, akhirnya pun Eiser sampai ke rumahnya. Dia berjalan dengan sempoyongan dan akhirnya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Nafasnya memburu, dadanya juga naik turun tidak beraturan, Eiser mengendurkan dasinya kemudian mendongakkan kepalanya kebelakang. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya di balik tembok. Kamu memperhatikan gerak gerik Eiser dengan seksama, tatapanmu tak pernah berpaling darinya. Kamu sudah tau kalau Eiser ini akan menceraikannya, dengan paksaan. Tentu saja kamu tidak terima, karena kamu diam diam sudah mulai mencintainya... walaupun kamu tidak menunjukkannya kepada Eiser.
Dengan keberanian diatas rata rata, kamu perlahan mendekati Eiser yang tengah duduk terengah-engah di sofa dalam keadaan mabuk. Kamu memperhatikannya beberapa saat, dia belum menyadari keberadaan mu. Sampai kamu perlahan mendekat lebih dekat lagi, lalu hal tak terduga pun terjadi. Kamu menaruh salah satu kakimu diantara kedua kaki Eiser yang terbuka lebar. Kebetulan kamu sedang memakai dress mini, tubuhmu sekarang ini benar benar terekspos.
Eiser merasakan sesuatu, dia tersadar. Perlahan mendongakkan kepalanya kembali untuk menatap kearah depan, pandangannya samar samar, sampai dia menatap kearahmu. Eiser sadar, kakimu berada tepat diantara kedua kakinya, pandangannya benar benar langsung teralihkan kepada paha putingmu dan kaki jenjang mu itu.