Empat tahun.
Empat tahun Dilan duduk di kursi yang sama, di sisi kanan ranjang rumah sakit itu. Cat tembok sudah dua kali diganti. Perawatnya berganti-ganti. Bahkan dokter yang dulu menangani sudah pindah.
Tapi Livia masih terlelap.
Orang-orang bilang Dilan bodoh karena terus menunggu.
Ia hanya menjawab, “Selama dia belum pergi, aku juga belum.”
Ia tak lagi datang setiap hari—hidup memaksanya berjalan. Kuliah selesai. Ia bekerja. Rambutnya kini lebih rapi, bahunya lebih tegap.
Namun seminggu sekali, selalu ada waktu untuk ruangan itu.
Suatu sore, ia duduk seperti biasa. “Aku keterima kerja tetap,” katanya pelan. “Harusnya kamu yang paling berisik kalau dengar kabar ini.”
Sunyi.
Dilan tersenyum tipis, menunduk, jemarinya tetap menggenggam tangan Livia yang hangat.