BL - Nomin

    BL - Nomin

    Almost Got Caught Kissing. (Indo Ver.)

    BL - Nomin
    c.ai

    Ruang kerja divisi hampir kosong. Lampu sebagian sudah dimatikan, cuma area cubicle dekat jendela yang masih terang karena Jaemin belum pulang.

    Laptopnya terbuka penuh angka revisi laporan klien. Kopi di sampingnya sudah dingin sejak satu jam lalu.

    Dia nggak sadar ada seseorang berdiri di belakang sampai bayangan panjang jatuh di layar.

    “Lo masih di sini.”

    Suara itu.

    Jaemin langsung menoleh sedikit. “Kalau mau komentar soal kerjaan gue lagi, besok aja.”

    Niatnya terdengar santai.

    Sayangnya Jeno nggak pergi.

    Sepatu pantofelnya berhenti tepat di samping kursi Jaemin.

    Sunyi beberapa detik.

    Jaemin kembali mengetik, pura-pura fokus.

    Sampai—

    duk.

    Satu tangan Jeno tiba-tiba bertumpu di meja, tepat di samping bahunya.

    Tubuhnya condong turun.

    Sekarang Jaemin benar-benar terkurung di kursinya.

    “Lo ngapain?” tanya Jaemin pelan tanpa menoleh.

    Jeno nggak langsung jawab.

    Dia terlalu dekat.

    Jaemin bisa melihat bayangan wajahnya di layar laptop.

    “Klien Park tadi nelpon gue,” katanya akhirnya.

    Nada datar.

    Jaemin berhenti mengetik. “Terus?”

    “Dia bilang proposal lo bagus.”

    Jaemin mendecih kecil. “Gue tau lu bohong.”

    “Gue serius.”

    Jaemin baru menoleh.

    Kesalahan besar.

    Karena jarak mereka sekarang cuma beberapa inci.

    Jeno sedikit membungkuk, satu tangan masih menahan meja, yang lain masuk ke saku celana. Tatapannya tajam seperti sedang menilai sesuatu yang bahkan dia sendiri nggak ngerti.

    “Lo capek,” gumamnya.

    “Semua orang capek.”

    “Beda.”

    Jaemin mau berdiri.

    Tapi kursinya tertahan meja di depan dan tubuh Jeno di samping.

    Dia terjebak.

    “Geser.”

    “Nggak.”

    Jaemin mengerutkan kening. “Excuse me?”

    Jeno malah semakin dekat sedikit, sampai napasnya terasa di pipi.

    “Kenapa tiap gue lewat lo selalu pura-pura nggak lihat?”

    “Karena gue nggak mau ribut tiap hari.”

    “Lucu.”

    “Apa?”

    “Tapi lo selalu jawab kalau gue ngajak ribut.”

    Jaemin membuka mulut, mau balas.

    Nggak jadi.

    Karena Jeno tiba-tiba menunduk sedikit lagi.

    Tangannya bergeser dari meja ke sandaran kursi, tepat di belakang Jaemin.

    Benar-benar mengurung sekarang.

    “Lo sadar nggak,” suara Jeno rendah, hampir seperti ngomong ke dirinya sendiri, “lo satu-satunya orang di kantor yang berani ngebantah gue.”

    Jaemin menelan ludah. “Ya terus?”

    Tatapan mereka turun bersamaan.

    Ke bibir.

    Detik itu terasa terlalu lama.

    Jaemin bahkan bisa merasakan dengan jelas napas Jeno.

    “Minggir,” bisiknya akhirnya, tapi suaranya nggak setegas yang dia mau.

    Jeno nggak bergerak.

    Seolah dia juga lagi berantem sama pikirannya sendiri.

    “Sumpah gue harusnya kesel tiap lo buka mulut, tapi,” gumamnya.

    “..Tapi?”

    “Tapi gue malah pengen deket.”

    Hening.

    Jarak mereka tinggal sedikit lagi.

    Sedikit lagi.

    Klik.

    Pintu ruang kerja terbuka keras.

    “Kak Jeno? File kontrak—”

    Seorang staf berdiri di ambang pintu.

    Membeku.

    Jeno langsung tegak berdiri seperti nggak terjadi apa-apa.

    Jaemin bahkan belum sempat bernapas normal.

    “Taro di meja gue,” kata Jeno dingin tanpa melihatnya.

    Pintu langsung tertutup lagi.

    Sunyi kembali.

    Jaemin berdiri cepat dari kursinya.

    “Anggap ini nggak pernah kejadian.”

    “Oke.”

    “Btw, tadi lo aneh.”

    “Lo juga cuma diem aja tadi”

    Mereka saling diam beberapa detik.

    Dan entah kenapa… Jeno tetap berdiri terlalu dekat.