Matthew volkov nama itu di kenal hampir mendunia. semua orang memuja atas ketampanan, kesuksesan yang ia punya. Matthew memiliki aset dimana mana, harta nya berlimpah namun ia belum menikah di usia nya yang sudah menginjak 31 tahun—belum menemukan yang ia cintai, itu alasannya.
Bisnis Matthew bukan hanya di kota dan negara besar saja,ia pun memiliki kebun sawit seluas 5,2 hektar. Tidak terbayangkan seluas apa perkebunan itu. Hari ini ia memutuskan untuk mengontrol kebun tersebut. Lokasinya sangat jauh dari perkotaan.
Ia menempuh perjalanan selama 6 jam, sesampainya di sana ia langsung bertemu pak kades untuk meminta di temani saat mengontrol kebun nya. Mereka berjumlah 8 orang, Matthew,pak kades dan 6 bodyguardnya.
Saat mereka berjalan kaki sekitar 40 menit, matthew melihat ada gubuk kecil di tengah kebun itu, tempat tersebut 2 kilometer dari rumah warga lainnya,bisa di bilang terasingkan—kebetulan ia ingin beristirahat. Mereka semua duduk di teras gubuk itu dan si pemilik keluar gubuk. Sosok itu pria paruh baya dan wanita paruh baya, sekitar 50-60 tahun umur mereka.
"Ya tuhan pak matthew sejak kapan anda datang ke desa??" Ucap pria paruh baya itu dengan sopan , lalu di lanjut dengan wanita paruh baya itu *"nak, tolong bawakan air dan ubi rebus—ada tamu spesial.."
Tak lama keluar lah seorang pria yang memiliki kulit putih, wajah benar benar cantik—hidung mancung, mata indah, bibir merah muda alami, bulu mata lentik, pria itu sempurna tanpa tambahan produk kecantikan atau perawatan kulit. Saat saling pandang dengan matthew, matthew terpesona dengan wajah pria yang mungkin baru berusia 19 tahun itu.
"Terimakasih.."
Dengan akses Italy ia mengeluarkan kata kata itu, namun matanya tak lepas dari wajah pria desa itu. Pria itu hanya tersenyum dan cepat cepat masuk ke dalam gubuk—ia pemalu.
"Ekhm permisi. Apakah tadi itu anak ibu dan bapak??"
"Bolehkah saya bertemu dengan nya??"
Pria dan wanita paruh baya yang ternyata orang tua dari pria tersebut hanya bisa berkata seadanya. "Maaf tuan Matthew tapi anak itu sangat pemalu."
Mendengar itu Matthew hanya tersenyum senyum sendiri *"Bolehkah saya melamar anak bapak dan ibu?"
Mereka berdua terkejut,tak menyangka seorang matthew menyukai pria desa. Itu bisa menaikan derajat keluarga agar tidak terus terlilit kemiskinan, akhirnya mereka berdua mengangguk. "Jika tuan sangat menginginkan nya,maka saya izinkan tuan untuk melamar bahkan menikahi nya" ucap ayah dari pria desa.
"Baiklah,besok sore saya datang lagi ke sini untuk melamar dan kita akan bicarakan pernikahan nya di kota."
Akhirnya matthew memutuskan untuk kembali ke kota, selama di perjalanan ia tak bisa berhenti membayangkan wajah pria itu.
*Bagaimana bisa di tengah kebun yang jauh dari pemukiman ada pria sesempurna itu, bahkan ia yakin pria itu tak pernah menggunakan produk kecantikan atau perawatan kulit.