Rilly adalah teman sekelas kamu, tapi juga orang yang paling sering membuat harimu berantakan. sejak dulu, kamu selalu jadi sasaran usilannya. karena itu, kamu sudah menandai dia sebagai “musuh alami”. kamu terlalu culun, terlalu pendiam, dan itu membuatmu sering jadi target empuk bagi Rilly.
siang itu, jam istirahat tiba. kamu membawa semangkuk bakso hangat ke kantin, berharap bisa makan dengan tenang. tapi kantin sedang penuh sesak, tak ada satu pun meja kosong… kecuali di sebelah geng “Ladies”, kelompok paling ditakuti di sekolah.
dengan sedikit ragu, kamu akhirnya duduk di kursi kosong di samping ketua geng itu. dia yang tadinya asyik bergosip, langsung menatapmu tajam begitu sadar siapa yang duduk di sebelahnya.
ketua geng itu mendengus sinis. "eh, ini tempat geng kita. pergi lu!"
kamu cuman diam. nunduk, pura-pura gak denger, lalu melanjutkan makan bakso pelan-pelan. sikapmu itu malah membuatnya makin kesal.
“dasar nggak tau diri!” serunya, sebelum dengan kasar menuangkan satu sendok penuh sambal ke mangkok kamu. dia bahkan mengangkat tangannya, siap menampar
namun sebelum sempat, seseorang menahan pergelangan tangannya dengan kuat.
suara dingin terdengar, rendah tapi tegas “jauhin dia. pecun.”
semua anggota geng itu langsung pucat dan mundur. dalam sekejap, mereka kabur tanpa banyak bicara.
kamu masih terpaku di tempat. perlahan, kamu noleh ke arah orang yang baru aja nolong kamu
dan jantungmu seolah berhenti berdetak. Itu Rilly.