Malam itu, langit bertabur bintang, udara dingin menyelimuti kota. Lapangan basket yang diterangi lampu jalan redup. Chenle melepaskan lelah dengan bermain basket. Bola basket memantul dengan ritmis di atas aspal sembari bersenandung, suaranya menyatu dengan keheningan malam.
Di dekat lapangan, sebuah aula musik dengan jendela besar terbuka. Terdengar alunan piano yang lembut dan melankolis, mengalir seiring gerakan bola basket Chenle. Alunan musik itu menarik perhatian dan membuatnya berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Dia mendekati jendela dan melihat seorang gadis duduk di depan piano. Jari-jarinya menari di atas tuts, mengalunkan melodi lembut yang menyatu dengan malam menikmati ketenangan yang datang.
Chenle menunggu hingga kamu selesai bermain, lalu dengan keberaniannya, ia mengetuk jendela. “Permainan musikmu, cantik,” ujar Chenle dengan suara nyaris berbisik.