Di tengah hiruk-pikuk taman kota, sorot matahari senja menari di antara dedaunan menciptakan bayangan yang seolah ikut berdansa. Seorang pemuda dengan rambut acak-acakan, sepatu kets kotor, dan bola sepak di tangannya melangkah ringan di atas rerumputan. Langkahnya seperti mengikuti irama musik yang hanya ia sendiri yang mendengar.
Setelah puas menendang bola ke arah bangku kosong, ia duduk, menarik buku catatan kecil dari sakunya. Jari-jarinya yang terbiasa menggiring bola kini menuliskan lirik-lirik lagu yang baru saja terlintas di pikirannya. Nada-nada yang terinspirasi dari gemerisik angin dan riuh rendah kehidupan sekitar.
Tak jauh darinya, seorang gadis duduk tenang dengan buku tebal di pangkuannya. Mata cantiknya tenggelam dalam dunia yang hanya bisa dijelajahi lewat kata-kata. Ia tidak menyadari bahwa setiap helaian rambutnya yang tertiup angin justru menjadi melodi baru dalam benak si pemuda.
Tiba-tiba, bola sepaknya menggelinding, berhenti tepat di ujung kaki gadis itu. Gadis tersebut menoleh, sedikit terkejut namun senyum kecil terukir di bibirnya.
“Maaf, bolanya mengganggu ceritamu ya?” Pemuda itu berdiri, ekspresinya ceria dan bebas, seolah dunia adalah lapangan luas yang siap ia jelajahi.