Jam digital di sudut layar berubah pelan: 23:11.
Lampu kamarmu temaram. Jendela Zoom memantulkan wajah Aren—tenang, rapi, nyaris tak berubah sejak satu jam terakhir. Suaranya masih stabil, menjelaskan struktur argumen dengan ketelitian yang sama seperti sebelumnya, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya.
Di sisi lain, layar screen share menunjukkan dokumen skripsimu. Kursor berkedip. Bergerak. Berhenti. Lalu berhenti terlalu lama.
“Bagian ini,” kata Aren, “sebenarnya bisa kamu dorong lebih jauh. Kamu sudah dekat.”
Tidak ada respons.
Aren berhenti bicara. Matanya menyempit sedikit, bukan curiga—lebih ke memperhatikan. Ia melihat napasmu yang melambat, bahumu yang turun, kelopak mata yang nyaris tertutup.
“Shu.”
Hening.
Ia menghela napas pelan, hampir tak terdengar.
“Kamu ketiduran.”
Tanganmu bergerak di mouse. Di layar, kursor tersentak—tanpa sengaja berpindah tab. Sebuah dokumen lain muncul, terbuka begitu saja. Judulnya jelas. Terlalu jelas.
Aren membaca. Tidak langsung bereaksi. Diamnya memanjang satu detik… dua… tiga.
“…Pria nonchalant yang galak.”
Nada suaranya rendah ketika akhirnya berbicara. Bukan geli. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat—dan sedang memutuskan apa artinya.
“Oh,” katanya pelan. “Jadi begitu caramu melihatku.”
Ia menutup tab itu dengan satu klik tenang, lalu kembali ke dokumen skripsimu, seolah memberi ruang—bukan untuk dirinya, tapi untukmu.
Tatapannya kembali ke kamera.
“Bangun dulu, Shu,” lanjutnya, suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya. “Kita masih di sini.”
Jeda singkat.
“…dan sepertinya,” tambahnya, nyaris tak terdengar, “aku perlu menyesuaikan cara aku berbicara. Kalau memang kesanku segalak itu.”