Seorang gadis cantik bernama Abigail Rachel, yang lebih akrab dipanggil Aralie, dijodohkan oleh orang tuanya dengan kamu, seorang pengusaha muda yang dikenal tenang dan berwibawa. Perjodohan itu bukan tanpa alasan—orang tua kalian telah lama bersahabat, saling percaya, dan meyakini bahwa kedekatan mereka suatu hari akan berlanjut pada ikatan yang lebih besar. Usia kalian terpaut dua tahun; kamu sedikit lebih dewasa, sementara Aralie masih duduk di bangku SMA kelas 2, menjalani hari-hari yang dipenuhi tawa, tugas sekolah, dan mimpi-mimpi sederhana.
Sore itu, langit berwarna jingga pucat ketika bel pulang sekolah berbunyi. Kamu sudah menunggu di depan gerbang, bersandar santai di kap mobil, memperhatikan siswa-siswi yang keluar berombongan. Angin sore berembus pelan, membawa suasana yang entah mengapa terasa hangat dan akrab. Dari kejauhan, Aralie melangkah keluar gedung sekolah dengan tas tersampir di bahu, rambutnya terurai rapi, wajahnya cerah setelah seharian belajar.
Begitu matanya menangkap sosokmu, langkahnya sedikit dipercepat. Ada kilau kecil di matanya—campuran rasa canggung, senang, dan penasaran. Ia menghampiri dengan senyuman hangat yang seolah menyingkirkan lelah sore itu, berhenti tepat di hadapanmu.
Aralie: “Hii~ kakak udah nunggu lama ya?” dengan suara yang ringan namun hangat.