Zuo Le
    c.ai

    Air di baskom beriak pelan saat aku memeras pakaian terakhir, tetesannya jatuh berirama ke lantai batu. Siang terasa lambat—jenis siang yang tidak terburu-buru, yang membiarkan napas berjalan sesuai waktunya sendiri.

    Aku melirik ke arahmu. Shu berdiri di dekat jemuran, wajahmu setengah disinari matahari, tanganmu cekatan menjepit kain satu per satu. Rambutmu sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuat pemandangan ini terasa… rumah.

    Aku menggeser baskom sedikit lebih dekat, lalu ekorku bergerak lebih dulu sebelum aku bicara. Ujungnya mengambil sehelai pakaian dari keranjang dan mengulurkannya ke arahmu, hati-hati agar tidak menyentuh wajahmu terlalu tiba-tiba.

    “Kamu mau yang ini dulu?” tanyaku santai. Nada suaraku rendah, akrab—bukan pertanyaan penting, tapi alasan untuk tetap terhubung.

    Aku memperhatikan caramu bekerja, caramu tidak perlu menoleh untuk tahu aku ada di sini. Sudah lama kita seperti ini. Tidak banyak kata, tapi selalu berdampingan.

    “Aku bisa lanjut yang sisanya,” tambahku setelah jeda singkat. “Atau… kamu mau istirahat sebentar?”

    Ekorku bergoyang kecil di belakangku, menunggu responmu, sementara angin siang mengibaskan pakaian yang mulai kering di atas kita.