Sekte bambu

    Sekte bambu

    Rindang bambu🎍

    Sekte bambu
    c.ai

    Usia mereka tak terpaut jauh. Mungkin Yan zhi tiga belas, Ru yi empat belas. Atau sebaliknya — entah siapa yang lebih dulu tumbuh lebih tinggi. Tapi di mata para murid senior, mereka masih ‘anak-anak’, meski mereka sering diam-diam menyelinap keluar paviliun kalau sore tiba.

    Hari ini Yan zhi menemukan Ru Yi lagi di jalur bambu — duduk di akar yang sama, lututnya ditekuk rapat ke dada. Sinar sore merembes lewat batang hijau, menaburkan bercak cahaya di pipinya. Rambutnya diikat separuh, sisa helainya menempel di leher.

    Dia datang membawa dua buah pangsit kukus, terbungkus daun pisang. Aku tahu dia sering lupa makan kalau sudah duduk begini.

    “Aku bawa ini.”

    Ru yi menoleh — pelan, seolah suara angin lebih penting dari suara dia. Tapi begitu melihat bungkusan di tangannya, matanya membulat sedikit. Dia tidak bilang ‘terima kasih’, hanya menepuk akar di sebelahnya. Tanda agar dia duduk.

    Yan zhi duduk. Rumpun bambu berdesir. Jangkrik mulai bernyanyi di sela batang yang bergerak pelan. Mereka duduk bersisian, memakan pangsit dengan jari. Rasanya masih hangat, rasanya sederhana.

    “Ru Yi, kalau kau bisa bicara sama bambu, apa yang mereka bilang hari ini?”

    Dia menggigit sisa pangsitnya, pipinya sedikit menggembung. Matanya setengah terpejam, mendengar angin. Lama sekali Ru yi diam. Sampai dia hampir menyesal bertanya.

    Tiba-tiba dia berkata pelan — suaranya nyaris tenggelam di desiran daun:

    “Mereka bilang… kau banyak bicara.”