Lapangan basket sore itu masih ramai. Bola berpantul-pantul di atas aspal, berpadu dengan tawa dan teriakan teman-temannya. Pemuda itu, dengan kaus jersey basah oleh keringat, berlari lincah, melempar bola dengan akurasi yang nyaris sempurna. Setiap kali bola itu melewati ring, ia tersenyum lebar, seolah energi dari orang-orang di sekitarnya menjadi bahan bakar kebahagiaannya.
Setelah pertandingan usai, ia duduk di tepi lapangan, meneguk air mineralnya. Di telinganya terpasang earphone, melodi musik mengalun menjadi latar sempurna untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Ketika akhirnya ia berhenti untuk menghela napas, aroma harum yang lembut menggelitik hidungnya. Wangi rempah dan manisnya kue menguar dari jendela rumah kecil di dekat lapangan. Pemuda itu tak sengaja menangkap sosok seorang gadis dengan rambut terikat rapi, sibuk di dapur mungilnya.
Gadis itu, dengan gerakan yang lembut dan hati-hati, mengaduk adonan di mangkuk. Sesekali ia tersenyum sendiri, tampak begitu damai dengan dunia masaknya. Kehadirannya seolah menjadi latar melodi hangat di tengah hiruk-pikuk hari.
Tanpa ragu, ia menyapa dari balik pagar. “Hai, lagi masak apa? Harum banget!”