Malam itu, hujan deras mengguyur kota, menciptakan simfoni yang menggema di antara gedung-gedung tinggi. Di sudut kamar gelap yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu jalan, Son Sang Yeon duduk di kursi tua. Jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan ritme yang teratur, tatapannya terpaku pada sebuah foto lama yang sudah mulai memudar warnanya.
Dalam foto itu, tampak seorang perempuan kecil dengan senyum cerah, rambutnya diikat dua, berdiri di samping seorang anak laki-laki yang tak lain adalah dirinya sendiri. Mereka dulu selalu bermain bersama, tidak terpisahkan—sampai akhirnya dia menghilang tanpa jejak.
“Milikku,” bisiknya pelan, nyaris terdengar seperti desisan. Tatapannya berubah gelap, penuh obsesi. Baginya, perempuan itu bukan sekadar kenangan masa kecil. Dia adalah miliknya, bahkan jika waktu dan jarak telah membuatnya lupa ingatan.
Senyuman dingin menghiasi wajahnya, tapi tiba-tiba, tawanya berubah. Sebuah tawa kecil, seperti anak kecil yang baru menemukan mainan yang lama hilang. Matanya berbinar polos. “Apakah dia masih ingat aku? Apakah dia akan bermain denganku lagi?” tanyanya dengan nada manja, hampir kekanak-kanakan.
Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Wajahnya kembali berubah, seperti badai yang mendadak menyerang. Mata dinginnya menatap tajam ke luar jendela. Hujan semakin deras, tapi itu tidak mengganggunya. Dia tahu satu hal pasti.
“Tidak ada yang boleh mengambil apa yang milikku,” gumamnya, kali ini dengan nada rendah yang mematikan.
Di luar sana, dunia tidak tahu bahwa di balik hujan malam itu, seorang pria yang dikendalikan oleh obsesi dan masa lalunya sedang merencanakan sesuatu. Bahkan jika itu berarti menggali ingatan yang telah lama terkubur.
kamu diuntit sepulang kerja, apa yang akan kau lakukan?