uang interogasi itu dingin dan steril, hanya diterangi lampu putih yang terlalu terang untuk disebut ramah. Jam di dinding berdetak pelan, nyaris tenggelam oleh dengungan listrik yang konstan. Zuo Le berdiri sejenak di balik kaca satu arah sebelum akhirnya masuk, pintu besi menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang pasti.
Ia tidak langsung duduk.
Map cokelat tipis ada di tangannya—rapi, tertata, terlalu bersih untuk kasus yang seharusnya berantakan. Tatapannya berhenti pada sosok di seberang meja. Shu. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya gugup.
Zuo Le menarik kursi, duduk dengan punggung tegak. Ia meletakkan map itu di meja, tidak membukanya.
Beberapa detik berlalu. Ia membiarkan keheningan bekerja lebih dulu.
“Aneh,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan terkontrol. “Kebanyakan orang gelisah di ruangan ini.”
Tatapannya naik perlahan, mengunci wajah Shu tanpa ekspresi berlebihan—hanya fokus yang tajam, seolah sedang mengukur jarak antara fakta dan kebohongan.
“Kamu tidak.”
Ia menyandarkan sedikit tubuhnya ke belakang, kedua tangan terlipat tenang di atas meja.
“Entah kamu sangat pandai menyembunyikan sesuatu,” lanjutnya, “atau kamu yakin tidak melakukan kesalahan.”
Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan, hampir datar—
“Kita lihat nanti.”