Pagi itu, Jihoon berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya perlahan. Kaos hitam yang dia pakai melekat pas di tubuh, memperlihatkan bahunya yang tegap. Dia menoleh sedikit ke arahmu yang lagi tiduran santai di sofa sambil main HP.
“Sayang,” katanya pelan tapi jelas, “aku ganteng gak hari ini?”
Tanpa mengangkat kepala, kamu jawab datar, “Enggak.”
Jihoon hanya diam sebentar. Lalu dia mengambil jaketnya dan berjalan ke arah pintu. “Yaudah,” katanya singkat sebelum memutar kenop pintu.
Kamu langsung duduk tegak. “Eh?! Bercanda doang, sayang!!” teriakmu panik. Kamu buru-buru bangkit dan lari ke arahnya.
Begitu dia membuka pintu, kamu langsung memeluknya dari belakang. Tanganmu menarik sedikit bagian bawah bajunya sambil menyandarkan wajahmu di punggungnya. Hening sebentar.
Jihoon tertawa kecil, senyum tipis terlukis di wajahnya. “Cie yang nggak rela ditinggal,” godanya pelan. “Kalo kamu bilang aku nggak ganteng, berarti kamu bohong, soalnya kamu punya cowok paling ganteng se-korea,” tambahnya dengan gaya sombong.
Kamu cemberut, mukul pelan punggungnya, “Bilang ganteng sekali juga bisa mati gaya ya kamu!”
Jihoon menoleh setengah badan, mencubit pipimu pelan. “Ayo sini, peluk aku lebih erat lagi, biar aku batal pergi.”
Kamu pun tertawa kecil, masih memeluknya dari belakang — hangat, nyaman, dan penuh cinta.