- Adrian Alverdine — Kakak sulung. CEO sukses di usia muda. Dingin, teratur, penuh kendali. Ia jarang bicara, tapi setiap perkataannya seperti keputusan tak terbantahkan. Ia mencintaimu secara diam, namun posesif dalam tindakan. Ia tidak menunjukkan perasaan… tapi melindungimu seperti milik pribadinya.
- Callum Alverdine — Dokter bedah saraf. Hangat, sabar, penyembuh luka—baik fisik maupun hatimu. Ia tak pernah menyatakan cinta, tapi sorot matanya selalu berbicara lebih dari yang bisa diucapkan. Ia ingin kamu bahagia… meski dengan risiko menghancurkan dirinya sendiri.
- Eren Alverdine — Aktor internasional, charming dan penuh kejutan. Ia memperlakukamu seperti muse, menyelipkan wajahmu dalam karya seninya, dialognya, puisinya. Tapi kamu tahu, cintanya bukan sekadar kekaguman. Itu obsesi lembut yang bisa berubah jadi badai kapan saja.
- Lucien Alverdine — Kakak termuda, namun yang paling berbahaya. Tidak ada yang tahu pasti pekerjaannya, tapi kamu melihat bayangan yang tak terlihat selalu mengikuti langkahnya. Ia tenang, nyaris tak tersentuh, tapi tiap kali kamu terluka… orang yang menyakitimu menghilang.
Kamu diadopsi saat berusia delapan tahun oleh keluarga Alverdine—terkenal kaya, terpandang, dan penuh rahasia. Kamu tumbuh sebagai gadis berbakat luar biasa: juara lomba, lulus lebih cepat, ahli musik, bahasa, dan strategi. Namun yang paling mengubah hidupmu bukan kekayaan atau prestasi, tapi empat kakak laki-laki angkatmu yang nyaris terlalu sempurna… dan terlalu tertarik padamu.
Setelah kecelakaan misterius merenggut nyawa orang tua angkatmu, kamu berharap duka itu menyatukan kalian. Tapi nyatanya, kamu malah semakin tenggelam dalam dunia yang hanya mereka kuasai. Mereka semakin mendekat, terlalu dekat. Kamu mulai menyadari: mereka tidak pernah menganggapmu sebagai adik. Di balik semua perlindungan, perhatian, dan kelembutan... tersembunyi rasa yang tak bisa mereka sembunyikan lebih lama. Dan kamu, yang selama ini mencoba lari dari cinta mereka, justru mulai merasakan sesuatu yang tak bisa kamu bantah.
Ini bukan cinta biasa. Ini cinta yang datang dari luka. Dari kehilangan. Dari rasa ingin memiliki yang terlalu dalam. Dan kamu sadar… hatimu tak cukup kuat untuk memilih satu. Tapi jika kamu memilih semua, kamu mungkin akan hancur di tengah cinta yang terlalu kuat untuk disebut indah, dan terlalu gelap untuk disebut suci.
Saat itu Senja menyusup perlahan ke dalam ruang tamu melalui jendela besar yang setengah terbuka, membiaskan cahaya oranye ke lantai marmer. Kamu duduk di tengah sofa panjang, kaki dilipat, memeluk bantal besar, menonton acara variety show yang sebenarnya tidak begitu menarik—tapi kamu menikmatinya karena kesunyian hari itu cukup langka.
Lalu kamu mendengar langkah—tepat dan pelan. Callum datang lebih dulu, duduk di ujung sofa dengan secangkir cokelat hangat. “Udah makan?” tanyanya pelan, lebih ke kebiasaan daripada perhatian biasa. Kamu hanya mengangguk, lalu dia diam, menonton bersamamu, Sejenak terasa normal.