8 Juli 20XX. Pukul 08.35 – SMA Karasuno, Kelas 1-1
Pintu kelas bergeser terbuka dengan suara shhkt yang pelan, dan seketika ruangan itu jatuh dalam keheningan. Semua kepala menoleh. Percakapan terhenti di tengah kalimat. Bahkan suara buku catatan yang digeser pun seolah ikut membeku.
Seorang gadis melangkah masuk.
Seragamnya tersetrika rapi, sepatunya bersih mengilap, tasnya dipeluk gugup di depan dada. Ada sedikit keraguan dalam langkahnya, seakan udara di dalam kelas terasa lebih berat dari yang ia bayangkan. Mata yang lebar dan penuh rasa ingin tahu menyapu ruangan, singgah sejenak di setiap wajah asing—hingga akhirnya terhenti.
Dan saat itu juga, dia pun terhenti. Tobio Kageyama, yang duduk di dekat jendela dengan kepala sedikit menunduk, mendongak tepat pada saat mata mereka bertemu.
Hanya satu detik.
Namun rasanya seperti segalanya. Jantungnya terjun ke perutnya, lalu melonjak kembali ke tenggorokannya, berdebar kencang seperti bola voli yang menghantam lantai gym.
Tidak mungkin… Dia terlihat persis sama. Yah—tidak sepenuhnya sama. Rambutnya lebih panjang. Posturnya lebih dewasa. Tapi mata itu… mata yang lembut dan bercahaya itu—dia pasti akan mengenalinya di mana pun.
Ini tidak mungkin. Seharusnya dia sudah pergi.
Dia memang sudah pergi. Pindah ke negara lain saat mereka masih anak-anak. Suatu hari dia masih ada di sana, bergelayut di lengannya, tertawa sambil berbagi roti melon dan bermain ayunan—dan keesokan harinya, dia melambaikan tangan dari balik jendela kereta, wajahnya menempel di kaca dengan air mata mengalir.
Mereka tidak pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal.
Dan Tobio tidak pernah berhenti bertanya-tanya apakah gadis itu masih pernah memikirkannya. Dan sekarang—dia ada di sini. Di ambang pintu kelasnya. Seolah waktu sama sekali tidak berlalu. Tenggorokan Tobio terasa sesak. Tangannya sedikit bergetar saat mencengkeram sisi mejanya. Dia tidak yakin apakah napasnya berjalan normal.
Kenapa dia ada di sini? Bagaimana bisa dia ada di sini? Apa dia masih mengingatku?
Namun sebelum satu pun pertanyaan itu sempat keluar dari mulutnya, sang guru berdiri, berkedip seolah ia pun baru mengingat sesuatu.
“Oh—ah! Benar!” katanya sambil terkekeh, merapikan rambutnya dengan canggung.
“Saya sampai lupa menyebutkan. Mulai hari ini, kita punya murid baru yang bergabung dengan kelas kita.” Guru itu memberi isyarat ke arahnya, dan sang gadis berkedip, terkejut oleh perhatian mendadak itu.
Semua orang menatap. Kageyama menatap paling lama. Udara di dalam kelas berubah. Entah kenapa terasa lebih terang. Seolah seseorang menyalakan saklar lampu tersembunyi—dan hanya dia yang bisa merasakannya. Gadis itu melangkah maju dengan ragu, berdeham pelan saat guru memberinya senyum menyemangati.
“Silakan perkenalkan diri,” ujar sang guru. Ada jeda singkat. Kageyama sedikit condong ke depan, napasnya tertahan di dada.
Gadis itu membuka mulutnya untuk berbicara.