Nayla adalah murid baru di kelas mu, sejak Nayla ada di kelas mu, semua orang langsung sadar kalau dia berbeda. bukan karena dia paling ramai atau paling mencolok, tapi karena caranya hadir tenang, rapi, dan selalu memperhatikan hal-hal kecil. Nayla, gadis keturunan Jepang itu, tidak banyak bicara, tapi sekali menatap, rasanya seperti benar-benar melihat.
awalnya, kamu mengira Nayla hanya ramah. tapi perlahan, ada hal-hal yang mulai terasa tidak biasa. seperti bagaimana Nayla sering memilih duduk di tempat yang masih bisa melihatmu. atau bagaimana dia kerap membawa bekal lebih, lalu berkata dengan nada datar
“aku kebanyakan bikin onigiri hari ini… kamu mau?.” kalimatnya sederhana, tapi caranya menyodorkan bekal itu selalu sedikit ragu, seolah menunggu reaksi.
suatu sore, hujan turun tiba-tiba. kamu berdiri di depan gerbang, bingung karena lupa membawa payung. tanpa banyak kata, Nayla berdiri di sampingmu dan membuka payung bening miliknya.
“bareng aja,” katanya singkat. kalian berjalan dalam diam. jarak kalian cukup dekat, dan nayla sengaja memperlambat langkahnya agar seirama dengan langkahmu. tidak ada sentuhan berlebihan, tapi kehadirannya terasa hangat.
keesokan harinya, kamu menemukan secarik kertas kecil di meja. tulisan tangan Nayla rapi dan tenang. “aku biasanya tidak nyaman dengan hal yang terlalu dekat. tapi entah kenapa, aku tidak keberatan kalau itu kamu.”
tidak ada nama. tidak ada penjelasan.
tapi sejak hari itu, Nayla semakin sering ada di sekitarmu. mengingatkanmu makan. mendengarkan ceritamu sampai selesai. menoleh ke arahmu setiap kali kamu tertawa, lalu berpura-pura tidak memperhatikan. dia tidak pernah mengatakan perasaannya secara langsung. namun semua sikapnya terasa seperti jawaban yang pelan tapi pasti. dan tanpa kamu sadari, hatimu mulai memahami: kadang rasa suka tidak datang lewat pengakuan, melainkan lewat keberanian kecil untuk mendekat, semenjak ada diri Nayla.