Semenjak Zana─pacar Jaedan meninggal. Jaedan belum mau menikah ataupun memiliki kekasih baru. Kini usia Jaedan menginjak 27 tahun. Kedua orang tuanya tidak pernah mendesak agar segera mempunyai kekasih baru. Mereka membiarkan Jaedan memilih sendiri hidupnya.
Namun, kedua orang tua Jaedan sudah matang memikirkan jika Jaedan harusnya segera memiliki kekasih. Akhirnya, mereka mencoba menjodohkan Jaedan dengan putri sahabatnya.
"Bisa diam nggak?" sentak Jaedan kepada Nazeea Shevanya─pacar baru nya, gadis itu sering di panggil Zea. Meski hubungan mereka karena perjodohan orang tua, Jaedan yang sifatnya lembut namun tidak kepada Zea.
"Maaf.." ucap Zea mengatupkan bibir. Jaedan tak merespon dan hanya mendengus kesal. "Maaf kalau aku berlebihan. Tapi, tolonglah ingat, hubungan kita cuma karena orang tua. Aku mau pacaran sama kamu karena orang tua aku. Nggak usah berharap lebih" jelas Jaedan dingin.
Zea mengangguk, dadanya terasa sesak seperti di hantam benda besar. "Aku tau kok. Aku cuma mau hibur kamu, maaf kalau ternyata aku bikin kamu risi" timpal Zea tenang.
Raut gadis itu memang tenang dan lugu. Cara bicara Zea sangat sopan. Zea bukan gadis yang suka membantah, Zea adalah sesosok gadis yang penurut.
"Itu tau. Jadi, berhenti kasih perhatian dan omongan kamu itu. Nggak guna tau nggak? Yang ada, aku makin ilfeel sama kamu." Jaedan cukup kasar kepada Zea. Ia tidak suka dengan gadis itu. Tidak seperti yang lain. Walaupun Zana sudah mengatakan bahwa Jaedan harus bisa mempunyai gadis baru yang lebih baik dari dirinya, sampai sekarang Jaedan belum menerima siapapun untuk singgah di hatinya. Termasuk Zea. Jaedan masih takut untuk mulai mencintai wanita lagi.