Nama: kian Arven Golongan: Omega Usia: 23 tahun Profesi: Terapis Fisik (Physical Therapist)
Kian adalah seorang Omega dengan penampilan yang lembut dan menenangkan. Rambutnya berwarna perak keputihan, sedikit bergelombang dan jatuh menutupi dahinya. Matanya berwarna cokelat muda dengan sorot yang hangat, seolah mampu meredakan kecemasan siapa pun yang menatapnya. Kulitnya putih bersih, dipadukan dengan bibir tipis berwarna merah muda alami.
Tubuh Lian tergolong ramping dengan tinggi sekitar 173 sentimeter. Meski tampak mungil jika berdiri di samping seorang Alpha, tubuhnya tetap proporsional karena terbiasa melakukan demonstrasi latihan rehabilitasi kepada para pasien. Ia lebih mengutamakan kenyamanan daripada penampilan, sehingga hampir setiap hari mengenakan seragam terapis fisik berwarna biru tua yang selalu tampak rapi.
Nama: Ares Valen Golongan: Alpha Dominan Usia: 28 tahun Profesi: Atlet Gym Profesional dan Juara Nasional Bodybuilding
Ares merupakan Alpha dengan postur yang sangat atletis. Tingginya mencapai 195 sentimeter, dengan bahu lebar, lengan berotot, dan tubuh yang dibentuk oleh latihan disiplin selama bertahun-tahun. Rambut hitamnya dipotong pendek, sementara matanya berwarna abu-abu gelap yang sering memberikan kesan dingin kepada orang yang baru mengenalnya.
Di Kota Aster, Alpha, Beta, dan Omega hidup berdampingan dalam masyarakat modern. Meskipun kesetaraan telah menjadi bagian dari hukum, sebagian orang masih memandang Omega sebagai sosok yang rapuh.
Kian Arven adalah seorang Omega berusia dua puluh tiga tahun yang bekerja sebagai terapis fisik di sebuah pusat rehabilitasi olahraga. Ia dikenal sebagai pribadi yang lembut, sopan, dan penuh kesabaran. Wajahnya yang menawan sering membuat orang mengira bahwa ia masih mahasiswa, tetapi kemampuannya sebagai terapis tidak pernah diragukan.
Suatu pagi, kepala klinik memanggilnya.
"Kian, mulai hari ini Anda akan menangani pasien baru."
Kian menerima berkas yang disodorkan kepadanya.
Nama: Ares Valen, si Atlet gym alpha yang dikenal sombong dan dingin.
Cedera pada bahu kanan akibat latihan berlebihan membuat Ares harus menjalani rehabilitasi selama beberapa bulan.
Pintu ruang terapi terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi dan berotot memasuki ruangan dengan langkah mantap. Tatapannya tajam, tetapi tidak terkesan angkuh.
"Selamat pagi," sapa kian sambil tersenyum. "Saya Lian, terapis fisik yang akan mendampingi proses rehabilitasi Anda."
Ares memandang kian selama beberapa saat sebelum menjawab.
"Baik. Mohon bimbingannya."
Sejak pertemuan pertama itu, Ares menyadari sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan.
Senyum kian mampu menenangkan pikirannya yang selama ini dipenuhi tekanan kompetisi.
Pada minggu-minggu awal, hubungan mereka tidak lebih dari terapis dan pasien.
Kian selalu mengingatkan Ares agar tidak memaksakan diri.
"Rasa sakit merupakan tanda bahwa tubuh memerlukan waktu untuk pulih."
Ares hanya mengangguk.
Biasanya ia tidak menyukai orang yang terlalu banyak menasihati.
Akan tetapi, ketika nasihat itu datang dari kian, ia justru mendengarkannya tanpa keberatan.
Tanpa disadari, Ares mulai mencari alasan untuk datang lebih awal.
Terkadang ia membawa dua cangkir kopi.
"Saya membelinya secara tidak sengaja," katanya.
Kian tersenyum kecil.
"Kalau begitu, terima kasih."
Padahal Ares sengaja membeli dua cangkir setiap pagi.
Perubahan sikap Ares tidak luput dari perhatian rekan-rekannya di pusat kebugaran.
"Sejak kapan kamu jadi rajin tersenyum?" tanya salah seorang sahabatnya.
Ares hanya menjawab singkat.
"Mungkin karena ada seseorang yang membuat hari-hariku terasa lebih ringan."
Beberapa bulan pun berlalu.
Cedera Ares hampir pulih sepenuhnya.
Hari itu merupakan sesi terapi terakhir.
"Selamat," ujar kian. "Mulai minggu depan Anda sudah dapat kembali berlatih seperti biasa."
Entah mengapa, ucapan itu justru membuat Ares merasa kehilangan.
Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata,
"Kalau saya sudah bukan pasien Anda, apakah kita masih dapat bertemu?"
Kian tampak terkejut.
"Apakah Anda ingin tetap berteman?"