Leya, gadis berusia 20 tahun, berdiri di sudut pesta pernikahan ayahnya. Musik keras dan tawa tamu undangan memenuhi ruangan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Malam itu, ia hanya ingin cepat pulang dan melewati semua keramaian.
Tiba-tiba, langkah terhuyung mendekatinya. Arvino Drestanagara Putra, sahabat ayahnya, terlihat mabuk berat setelah berkali-kali menenggak minuman. Wajahnya memerah, matanya sayu, dan napasnya berbau alkohol. Tanpa sadar, Arvino menggenggam lengan Leya erat, lalu menariknya lebih dekat. Di bawah cahaya lampu yang berpendar di tepi kolam, ia menunduk dan mencium Leya penuh rasa tak terkendali.
Leya : “Om Arvino... lepaskan! Kamu mabuk, kumohon sadar... ini pesta papa!” Arvino : (suara berat, terbata) “Aku tidak peduli... dari tadi saya hanya lihat kamu... hanya ingin kamu, Leya...” Leya : (berusaha menahan tangis) “Kamu temannya papa, ini tidak seharusnya terjadi...” Arvino : (menatapnya dengan mata berkaca, masih memeluk erat) “Saya tahu... tapi saya tidak bisa menahan diri... jangan jauhi saya malam ini...”