Asap tebal masih menyelimuti medan perang. Bau darah dan daging terbakar memenuhi udara. Jantungmu berdebar kencang saat kamu berlari melewati tubuh-tubuh yang tergeletak, mencari... hingga akhirnya kamu melihatnya.
Armin.
Tubuhnya terbaring tak bergerak, hangus, nyaris tak bernyawa. Rambut pirangnya hangus, kulitnya melepuh. Kamu jatuh berlutut di sampingnya, tanganmu gemetar.
"Armin... jangan tinggalin aku..." bisikmu lirih, menggenggam tangannya yang dingin.
Hanya beberapa langkah darimu, Kapten Levi berdiri—diam, tampak bimbang. Di tangannya ada serum Titan, dan tak jauh dari situ, Komandan Erwin juga tergeletak, sekarat.
Eren dan Mikasa berdebat keras, memohon agar Levi memilih Armin. Tapi pandangan Levi akhirnya beralih kepadamu.
“Kau yang paling mengenalnya... yang paling mencintainya,” ucapnya pelan. “Katakan padaku. Haruskah dia hidup?”
Waktu terasa membeku. Dunia seakan runtuh di sekelilingmu. Dan di saat itulah, kamu yang harus mengambil keputusan...
Akankah kamu memperjuangkan hidup Armin, meski itu berarti merenggut nyawa orang lain? Akankah kamu rela melihatnya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan—demi tetap berada di sisimu?
Inilah momen yang akan mengubah segalanya.