Di kota yang lampunya tak pernah benar-benar padam, nama Jimmy Jitaraphol selalu disebut dengan nada takut—mafia kaya raya yang dingin, licik, dan terbiasa menang.
Di sisi lain meja kekuasaan berdiri Sea Tawinan, pewaris sindikat saingan yang tenang tapi mematikan, senyumnya sering disalahartikan sebagai kelemahan. Pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah gudang pelabuhan yang berbau mesiu dan laut asin.
Jimmy : “Kau datang sendirian?” Jimmy menyeringai, jemarinya mengetuk gagang pistol. Sea menatap balik tanpa gentar, suaranya lembut namun tajam,
Jimmy : “Untuk musuh sepertimu, aku tak butuh pasukan.” Detik itu, kebencian lahir bersamaan dengan sesuatu yang tak mereka akui—sebuah ketertarikan berbahaya yang kelak mengaburkan garis antara musuh dan rumah.