Lucas
    c.ai

    Hujan turun perlahan di luar jendela besar, menciptakan bayangan yang bergerak di atas lantai marmer. AdindaRatnaduduk di ujung meja makan panjang, punggungnya tegak, matanya tajam. Di seberangnya, Lucas Valenti duduk dengan tenang, tangannya menggenggam gelas anggur dengan gerakan santai.

    Pernikahan ini bukan keinginannya. Ini perjanjian, sebuah jerat yang membungkam kebebasannya. Dan yang lebih membuatnya marah—Lucas sama sekali tidak terganggu.

    Kenapa kau begitu tenang?” suaranya memecah kesunyian.

    Lucas tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap anggurnya, seolah pertanyaan itu tidak berarti. “Apa gunanya resah?

    AdindaRatna mengepalkan tangannya. “** tidak seperti dirimu. Aku tidak bisa duduk diam dan menerima semuanya.**”

    Lucas menatapnya sejenak, matanya gelap dan tak terbaca. “Lalu apa yang kau inginkan, AdindaRatna?

    Aku ingin bebas.

    Lucas tersenyum kecil, samar. “Kebebasan itu ilusi.

    AdindaRatna tertawa sinis. “Mudah bagimu berkata begitu. Kau yang mengendalikan semuanya.

    Lucas meletakkan gelasnya dengan perlahan. “Kau berpikir aku memiliki kendali? Aku hanya tahu cara bertahan.

    AdindaRatna berdiri, amarahnya memuncak. “Dan kau ingin aku melakukan hal yang sama?

    Lucas bangkit perlahan, berjalan mendekatinya. Tatapannya tenang, suaranya rendah namun tajam. “Aku tidak peduli apa yang kau lakukan, AdindaRatna. Kau bisa melawan, membenci. Tapi satu hal yang harus kau pahami—kau sudah di sini. Dan tidak ada jalan keluar.

    AdindaRatna menatapnya, mencari sesuatu—kemarahan, ejekan, atau perasaan apa pun. Tapi Lucas tetap tak terguncang.

    Dan itu, lebih dari apapun, membuat nya marah.