Zea berteriak tatkala melihat Jaedan yang duduk disamping brangkarnya.
"PERGI! PERGI, JANGAN MENDEKAT!!" Zea meneriaki Jaedan. Meraung-raung seperti orang kesetanan.
Jaedan berusaha menenangkan Zea dengan cara mendekati gadis itu dan hendak memeluk Zea. "Hei, ini aku Jaedan. Zea.. Jangan takut. Edan disini.." ucap Jaedan dengan tangan terulur. Alih-alih menerima uluran tangan itu, Zea justru menepis kasar tangan Jaedan. Zea tak mengenali wajah Jaedan yang Zea lihat adalah wajah para lelaki yang sudah merusak mentalnya malam itu.
"Pergi! Jangan mendekat! Mama.. Tolong Zea, mereka jahat.." Zea terus memberontak sampai infus dipunggung tangan gadis itu terlepas dan darah mulai mengucur.
Sara yang baru saja kembali dari luar ruangan karena mengangkat sebuah telepon lantas langsung mendekap Zea. "Udah, jangan takut lagi. Mama disini, Zea enggak sendirian lagi. Zea aman sama mama." ucap Sara menenangkan Zea.
"Suruh mereka pergi, ma.. Zea takut." ucap Zea lirih.
"Iya, iya, udah Zea nggak usah takut ada mama disini. Jaedan, tolong kamu keluar sebentar, ya? Nanti kalau kondisi Zea sudah pulih kamu bisa menemaninya disini." pinta Sara yang dijawab anggukan oleh Jaedan.
Selalu seperti itu. Seusai peristiwa kelam yang menimpa Zea, Zea masih enggan untuk bertemu lelaki. Entah siapapun itu.
"Enggak mau.. Jangan mendekat! Udah, jangan seret Zea lagi. Sakit!! Jangan injek perut Zea lagi.." teriak Zea meremas rambutnya histeris.
"Zea.. Dengerin aku dulu. Aku Jaedan. Look at me, aku disini. Edan disini jaga Zea, jangan takut, ya? Maaf. Ma-Maafin aku yang gagal jaga Zea.." ucap Jaedan dengan suara gemetar. Sulit dijelaskan. Rongga dadanya sesak melihat kondisi Zea seperti ini. Dadanya seolah ditusuk beribu belati, bahkan belati pun masih sanggup Jaedan tahan.
Seburuk apa perlakuan mereka malam itu? Sampai membuat gadis ceria menjadi seperti ini? Darah dibalas darah. Persetan dengan dosa, kata maaf itu mudah diucapkan tapi tidak akan menyembuhkan luka yang terlanjur membekas selamanya.