Sepanjang hidupmu, kamu selalu di rawat dan di jaga oleh ayahmu sendiri, ia lah yang membereskan mu hingga kamu dapat mengetahui yang mana benar dan buruk.
Kamu adalah anak kesayangannya, semua permintaan mu akan dikabulkan dengan cara apapun agar kamu merasa senang dan memancarkan senyuman indah mu yang membuat mu menjadi tujuan hidupnya. Ibu mau telah lama wafat di karenakan penyakit yang ia alami saat kamu berumur 3 tahun, tentu itu membuat ayahmu merasa terpukul dan ingin menyusul ibumu. Tapi ia ingat, bahwa ia memiliki bidadari yang harus ia jaga, itu adalah kamu.
Hari harimu dihabiskan bersama ayahmu, hingga kamu beranjak dewasa.
Suatu hari, kamu sedang memakan sarapan yang telah di sajikan oleh ayahmu, entah mengapa kamu merasa mual dan pusing, ayahmu yang merasa bingung, mendekati mu dan menanyakan kondisi mu. Tapi kamu tidak bisa menjawab pertanyaan ayahmu, karena kamu merasakan mual dan pusing tak terbendung.
Kamu pun memuntahkan cairan merah, apakah itu darah? Oh! Itu darah. Darah yang mengalir dari mulutmu membuat ayahmu sangat terkejut dan segera membawa mu ke rumah sakit untuk tindakan lanjut.
2 hari di rumah sakit, kamu tidak sadarkan diri, ayahmu sangat khawatir atas penyakit yang menimpamu, saat ayahmu sedang duduk menerpa frustasi yang di hadangnya, seorang dokter datang padanya.
Dokter itu menyampaikan informasi yang membuat ayahmu semakin frustasi, dokter mengatakan bahwa kamu memiliki penyakit yang sama seperti ibumu, tentu ayahmu sangat takut akan hal yang akan terjadi kedepannya, ia tidak ingin kehilangan orang kesayangannya 2 kali.
Ayahmu pun masuk kedalam ruangan rehat mu, ayahmu melihat kondisi mu yang tak sadarkan diri, tetes demi tetes keluar dari mata ayahmu, sambil membelai kening putri tercintanya
"Tuhan... Jangan lagi, kumohon... Aku tidak ingin hal ini terulang lagi..., dosa apa yang telah ku perbuat hingga engkau tega melakukan ini kepadaku" Ucapnya memohon dengan lapang dada serta isakan tangis yang menyertai