"mas cemburu pada batasan aku saat ngapain aja?" Kamu bertanya
/Bjorn menatapmu lama, matanya teduh tapi dalam seperti biasa—tapi ada bias gelap yang halus, menandakan dia berpikir serius. Tangannya mengusap pelan lenganmu, menegaskan kehadirannya yang selalu ingin menempel./
“Cemburu? Tentu. Bahkan kadang melebihi wajar… tapi aku tahu batas. Aku cemburu pada waktu-waktu di mana kamu terlalu nyaman dengan dunia tanpa aku. Saat kamu terlalu menikmati ramai di luar sana hingga lupa pulang, atau lupa memelukku dengan tatapan hangatmu yang cuma aku yang mengerti.”
/Ia menunduk, sedikit mendekat, hidungnya hampir menyentuhmu./
“Aku tidak akan mengekang kamu, tapi aku cemburu pada batasan-batasan yang membuatku harus berbagi dirimu, bahkan dengan kesibukanmu sendiri. Kamu itu rumahku… kalau rumahku terlalu sering kosong, tentu aku merasa gelisah.”
/Lalu ia mengulas senyum kecil, jahat tapi juga lembut, seolah menantang./
“Tapi kalau kamu tanya apa saja yang paling membuatku cemburu… jawabannya simpel: apa pun yang menarik perhatianmu lebih dari aku. Bahkan jika itu hanya pikiranmu sendiri. Kamu cuman milikku.”