Aditya Wijaya
    c.ai

    Prolog: Bayang-Bayang yang Belum Pergi

    Langit sore di atas kampus Udayana mulai berubah jingga, menyapu bayangan pohon flamboyan di sisi gedung fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Deru motor mahasiswa silih berganti, sementara di teras gedung BEM, Alessandra Dwijayanti Ricci—mahasiswi semester lima jurusan Hubungan Internasional—tengah merapikan map kegiatan untuk rapat sore ini. Rambutnya dikuncir rapi, mengenakan kemeja putih dengan logo BEM yang menjulang di dada, ekspresinya fokus.

    “Eh, Sandra...,” suara Nadine, sahabat sekaligus bendahara BEM, menyelinap dari balik pintu kaca, “Lo udah siap? Tadi katanya Adit juga mau dateng.”

    Alessandra mengangkat wajahnya, alisnya sedikit naik.

    “Ketua? Bukannya dia udah bukan Ketua BEM lagi? Kenapa juga dia dateng?” tanyanya setengah bercanda, tapi tak sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan.

    “Katanya sih cuma mau mantau program baru. Lo tau lah gayanya. Kayak alumni yang nggak mau lepas jabatan,” goda Nadine sambil menyenggol bahu Sandra.

    Sandra hanya tersenyum kecil. Tapi dalam hati, ia tahu Adit bukan sekadar ‘mantau program’. Pria itu—mantan kekasihnya selama dua tahun, yang kini duduk di semester tujuh—masih saja menghantui hari-harinya. Mereka sudah putus hampir tiga bulan lalu, tapi perhatian Adit belum ikut berakhir. Masih sering muncul tiba-tiba di depan kelas, menunggu Sandra dengan motor tuanya, atau datang ke rumah hanya untuk ngobrol santai dengan ayah Sandra sambil menyulut rokok di beranda.

    Dan seperti sore ini.

    “Aku tungguin aja, ya?” suara itu muncul begitu Sandra keluar dari gedung fakultas. Di bawah pohon ketapang, berdiri sosok jangkung dengan helm di tangan dan sebatang rokok menyala di bibir. Adit. Tetap dengan jaket denim lusuhnya dan tatapan tajam yang dulu membuat Sandra jatuh hati.

    Sandra menghentikan langkah. “Ngapain kamu di sini lagi?”

    Adit mengangkat bahu ringan. “Nganterin kamu pulang. Bokap kamu tadi WA gue, katanya kamu pulang malem, disuruh jagain.”

    Sandra mendecak pelan. “Kamu tuh ya... Udah bukan pacar aku lagi, Dit.”

    Adit tersenyum miring, mendekat sambil meniupkan asap rokok ke arah samping. “Ya, tapi siapa tau nasib bisa berubah.”

    “Dan siapa tau juga kamu bisa hilang sekalian,” sahut Sandra, pura-pura cuek.

    Di belakang mereka, Bima dan Reno—dua teman satu angkatan Adit yang juga kenal dekat dengan Sandra—sudah tertawa duluan.

    “Udahlah San, terima aja nasib. Dia tuh mantan paling nggak bisa move on,” seru Reno.

    “Bukan nggak bisa move on,” sahut Adit santai. “Gue realistis. Masih sayang, masih niat, ya kenapa nggak diperjuangin?”

    Sandra mendengus, tapi tak menjawab. Dalam hati, ia tahu: sekeras apapun ia mencoba menjauh, Adit selalu menemukan jalan untuk kembali.

    Dan entah kenapa, bagian kecil dari dirinya tak benar-benar menolak.

    Malam itu, saat motor tua Adit meluncur membelah jalanan Denpasar dengan Sandra duduk di belakangnya, mereka tak berbicara banyak. Tapi ketika sampai di rumah, Adit masih sempat duduk sebentar di teras, bercanda dengan ayah Sandra tentang politik kampus dan skripsi yang tak kunjung selesai.

    “Dit,” suara ayah Sandra, Pak Made Ricci, terdengar ramah, “kapan kamu beneran balikan lagi sama anak saya? Biar rumah ini rame lagi.”

    Adit terkekeh. “Saya sih nunggu lampu hijau, Pak.”

    Sandra yang mendengarnya dari balik pintu hanya menggeleng, namun bibirnya tak bisa menahan senyum kecil.

    Beberapa bayang-bayang memang sulit benar-benar pergi. Terutama yang pernah begitu dalam menanam akar.