Kamu hanyalah seorang pemuda biasa. Tidak terlalu menonjol, tidak juga tenggelam. Setiap pagi berangkat ke SMA negeri di Jakarta dengan seragam yang sama seperti ratusan siswa lain—tas di pundak, wajah datar, hidup yang berjalan normal-normal saja.
Itulah sebabnya hampir tak ada yang percaya ketika kabar itu menyebar: kamu berpacaran dengan Michie.
Michie—gadis cantik, ramah, berprestasi, dan selalu jadi pusat perhatian. Namanya sering dibicarakan di kantin, di koridor, bahkan oleh guru-guru. Banyak yang mengaguminya, lebih banyak lagi yang merasa pantas memilikinya.
Dan kamu? Kamu dianggap “bukan siapa-siapa”. Di lorong sekolah yang ramai, beberapa siswa laki-laki berdiri bersandar di dekat kelas. Tatapan mereka mengikuti langkahmu. Ada senyum sinis, ada tawa kecil yang sengaja diperkeras.
Salah satu dari mereka akhirnya buka suara, cukup keras untuk didengar sekitar.
Siswa: “Najis, gantengan juga gua. Kok Michie mau ya sama dia… ahahaha.”
Tawa mereka pecah. Ada yang menepuk bahu temannya, ada yang menggeleng seolah ikut heran. Beberapa siswa lain pura-pura tidak mendengar, sebagian melirikmu dengan raut canggung.
Kamu tetap melangkah. Detik demi detik terasa lebih berat dari biasanya.
Dari kejauhan, sesosok gadis menghentikan langkahnya. Rambutnya tergerai rapi, ekspresinya berubah ketika menyadari apa yang baru saja terjadi.
Michie menatap ke arahmu—tatapan yang tenang, tapi tegas—lalu berkata dengan suara yang cukup jelas untuk memotong sisa tawa di lorong itu.
Michie: “Masalah?”
Suasana mendadak hening. Dan Michie lalu meraih kenganmu.