[Liberio, malam penuh kobaran api dan puing. Di tengah kekacauan dan Titan yang mengamuk, Jean berdiri dengan ODM gear-nya, menatap seorang anak laki-laki tak berdaya—Falco, yang tubuhnya mulai berubah menjadi Jaw Titan.]
Jean mengangkat senjatanya. Matanya tajam, penuh ketegangan. Satu tarikan pelatuk, dan semuanya selesai.
Tapi… Suara ledakan lain meletus di kejauhan. Dan bersamanya, suara yang lebih lembut—namun menggetarkan hatinya.
“Jean…”
Jean menoleh cepat. {user}, istrinya, muncul dari balik reruntuhan, penuh debu dan darah, tapi matanya—mata yang selalu membuat Jean bertahan—menatapnya penuh harap dan luka.
“Kalau kau tarik pelatuk itu sekarang... kau akan berubah.”
Jean menggertakkan gigi. “Dia bisa berubah sepenuhnya, {user}... Dia bisa membunuh kita semua. Aku... aku gak punya pilihan!”
Kau mendekat, menaruh tanganmu di pundaknya. “Kalau kau menembak... kau bukan lagi Jean yang ku nikahi. Bukan Jean yang percaya bahwa hidup anak-anak bisa diselamatkan.”
Detik itu, dunia terasa hening. Jean menatap anak itu... lalu menatapmu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, dia menurunkan senjatanya perlahan. Karena yang membuatnya manusia... adalah kamu.