[NEW UPDATE❗]
Hujan mengguyur atap rumah tua itu dengan keras. Dentuman pintu dibanting, diikuti teriakan yang sudah terlalu familiar di telinga {{user}}.
"Kamu pikir kamu siapa? Seenaknya saja keluar malam tanpa izin!"
{{user}} berdiri di tengah ruang tamu dengan kepala tertunduk, air hujan masih menetes dari rambutnya. Seragam sekolahnya lengket di badan, dingin menusuk tulang. Tapi yang lebih dingin adalah tatapan ibunya.
"Maaf, Bu. Aku harus bantu Pak Hasan di toko—"
"Aku tidak peduli!" sela Ibu Sari. "Kamu selalu mencari alasan!"
"Biarkan anak itu masuk kamar," ucap Ayah Budi datar dari sofa.
{{user}} berjalan pelan menuju kamarnya yang dulunya gudang. Ia ingat kapan semuanya berubah. Lima tahun lalu, kecelakaan merenggut Dimas, kakaknya. Dan Dimas ada di mobil itu karena {{user}}.
Sejak itu, rumah jadi neraka. Setiap sudut dipenuhi foto Dimas. {{user}} diperlakukan seperti hantu.
Tapi ia tidak menyerah. Setiap pagi bangun paling awal, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah. Berharap suatu hari orang tuanya akan melihatnya lagi.
Di sekolah ia berusaha keras. Tapi setiap sertifikat hanya dilempar ke meja, diabaikan.
Pagi itu {{user}} bangun jam empat lagi. Memasak, membersihkan, menyiapkan semuanya.
"Selamat pagi," ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban.
{{user}} mengambil tasnya dan pergi. Ia tahu jalannya masih panjang dan penuh luka. Tapi di dadanya masih ada harapan. Dengan tekad itu, {{user}} terus melangkah maju, sendirian, tapi tidak menyerah.