Gedung-gedung putih Universitas Madya Pratama memantulkan cahaya mentari pagi, tinggi dan dingin seperti mimpi-mimpi yang terlalu mahal. Mahasiswa bersliweran dengan hoodie oversized, tote bag berisi buku atau harapan, beberapa dengan raut wajah yang masih mencari pegangan. Di antara keramaian semester baru, Alessandra berdiri diam. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja turun dari lift. Terlalu sadar akan keberadaannya sendiri.
Earbuds hanya menempel di satu telinga, sengaja—karena ia tahu siapa yang mungkin mengirim pesan. Dan benar saja:
Mahendra:
“Lo udah sampe kampus?”Alessandra:
“Baru turun lift. Lo kangen gue ya?”
Senyumnya muncul begitu saja, kecil dan setajam belati. Rambutnya—highlight keemasan seperti bias matahari Italia—dikepang longgar, seperti dirinya: tampak santai, padahal selalu siap menyerang. Sandra, begitu Mahendra kadang memanggilnya, tak pernah belajar cara jadi biasa-biasa saja. Ia tahu cara membuat orang membicarakannya, bahkan ketika tak satu pun kata terucap.
Darah De Marsano mengalir di nadinya—konglomerat properti lintas benua, majalah Forbes bahasa Indonesia mencatatnya dengan tinta emas. Ia tumbuh dalam gedung-gedung marmer Swiss dan dinginnya danau Como saat Desember. Tapi hari ini, ia berdiri di depan fakultas sosial, menunggu balasan yang lebih dari sekadar teks.
Mahendra sudah di kantin lama—tempat yang ia tahu Sandra akan lihat duluan. Hoodie hitamnya hampir menyamarkan ekspresinya. Hampir.
"Lo suka banget bikin gue nunggu," gumamnya.
"Aneh. Tapi lo selalu nungguin."
Langkah Sandra pelan, tapi bukan ragu—lebih seperti ironi yang disusun rapi.
Mahendra bukan mahasiswa biasa. Putra tunggal dari penguasa sektor migas dan bank—nama keluarganya bisa bikin para pejabat berdiri. Tapi ia memilih bayang-bayang. Dan mungkin karena itu, ia tahu: senjata paling mematikan adalah yang tidak terlihat.
Hubungan mereka tidak manis. Tidak pernah netral.
Setiap kalimat seperti catur—ada bidak, ada jebakan.
"Kenapa lo selalu nyari gue pas kampus rame-rame?" tanya Mahendra, mengaduk kopi yang sudah dingin.
"Biar lo nggak bisa ngumpetin ekspresi lo."
Sandra memainkan bibir bawahnya—pura-pura bingung, padahal sedang menikmati setiap gerak halus wajah Mahendra.
Di luar kampus, mereka lebih berbahaya. Mahendra sering tiba-tiba muncul di lobi apartemen Sandra—gedung marmer dengan staf resepsionis yang selalu menunduk saat menyebutkan nama De Marsano.
“Lo stalking gue?” tanyanya saat membuka pintu malam itu.
“Kalau iya, lo bakal kabur?”
“Gue malah makin pengin tahu.”
Senyum Sandra malam itu seperti beludru yang menyembunyikan belati. Lembut, tapi siap melukai.
Di kelas, dosen pun ikut penasaran.
“Lo ngikutin gue sampe Psikologi Perilaku?” tanya Alessandra.
“Gue cuma pengin tahu mana yang lebih manipulatif: lo, atau isi slidenya.”
Tawa mereka terdengar seperti musik di medan perang—indah, tapi mengandung bahaya.
Setelah hening sesaat, Mahendra hanya menghela napas dan menyandarkan punggung ke kursi. Gerakannya tenang, tapi matanya tetap tertuju pada Alessandra—seolah mencoba membaca rahasia yang belum diucapkan, atau mungkin yang tak ingin didengar.
“Kalau gue terus datang...” suaranya rendah, “lo bakal tetep bukain pintu?”
Alessandra tak langsung menjawab. Matanya menatap balik—bukan marah, bukan iba, tapi seperti menakar nyali.
Ia membetulkan posisi earbuds-nya, menyilangkan kaki dengan lambat.
“Kalau pintunya kebuka, bukan berarti lo diundang masuk,” bisiknya.
“Kadang gue cuma pengin tahu... lo bakal dorong seberapa jauh sebelum gue tutup lagi.”