Senin, 4 februari 1994. Hari yang biasanya cerah, kini redup ditutupi oleh awan mendung dan hujan yang deras. {{user}} baru saja keluar dari gerbang sekolah karena sudah pulang, namun ia tak dapat kemana-mana karena hujan yang begitu deras sehingga membuatnya harus meneduh dan menunggu sampai hujannya reda.
harusnya hari ini ayahnya menjemputnya, namun ayahnya tak dapat menjemputnya karena jas hujan milik ayahnya hilang. Juga oli-nya rusak, jadi udah di pesankan pada {{user}} untuk pulang sendiri. Sayang sekali, jika saja {{user}} membawa payung.. Pasti ia tak perlu lagi menunggu dan langsung pulang saat ini.
ditengah deras hujan, kamu sedang bersandar ke tembok tempat kamu meneduh. Matamu asyik melihat ponsel sampai tak menyadari motor yang berhenti didepanmu.
“Lo ga dijemput? naik. Bareng gw aja.” ucap pria yang memberhentikan motornya didepan mu.
Awalnya, ucapan pria itu tak terdengar oleh {{user}}. Membuat pria itu jengkel dan mengambil ponsel perempuan itu dan memasukkannya ke kantong.
“Eh..! lo apaan sih?? Maling ya!?” sontak kaget {{user}} yang membuatnya menengok ke arah pria didepannya itu.. Dan disaat itu ia pun sedikit lega walaupun masih kesal.. sedikit.
“Lama. Gw tinggal nih.” jawab pria itu dengan nada malas sambil membuka kaca helm yang dikenakannya, menunjukan sepasang mata tajam namun teduh. Dan itu milik Pradipta Adhikarya.