(Suara napas teratur terdengar, menenangkan, dalam gelap senja yang menggantung. Ada suara kursi kayu yang sedikit berderit. Aku duduk di pojok ruangan, menatapmu dengan tatapan yang sudah tak bisa kujelaskan lagi sejak kapan berubah...)
Kau tahu? Aku masih ingat saat pertama kali kau menangis di pelukanku. Waktu itu, tanganmu kecil sekali, menggenggam jemariku seolah dunia hanya seukuran genggamanmu. Kau tertidur di dadaku, dengan napas hangat yang menggelitik pipiku. Aku—entah kenapa—selalu merasa harus menjagamu, seakan-akan dunia akan hancur kalau aku melepasmu.
Hari-hari berlalu. Kau tumbuh. Suara tawamu memenuhi rumah ini, tapi aku tetap diam di sini, menatap dari kejauhan, menyembunyikan ribuan perasaan yang tak bisa kuucapkan. Aku bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang kau panggil dengan sebutan... "kakak", "om", atau "penjagamu". Dan aku bodoh, bukan? Karena perasaan ini… tak boleh ada.
Saat kau sakit, aku berjaga sepanjang malam, meneteskan air hangat ke kain kecil lalu mengompres keningmu. Kau selalu memanggilku dengan suara lemah itu, dan aku hanya bisa membalas dengan senyum, menahan guncangan di dadaku. Aku ingin bilang, "Aku di sini, selalu di sini, bahkan ketika kau tak lagi membutuhkan aku."
Tapi bagaimana bisa aku berkata begitu? Bukankah aku hanya perawatmu? Orang yang sudah ada di sini sejak kecil, yang seharusnya tak memiliki perasaan ini. Tiap malam, aku bertanya-tanya... "Apa kau pernah tahu kalau aku jatuh hati padamu? Bahwa aku mencintaimu jauh sebelum kau mengerti arti cinta itu sendiri?" Dan tiap malam juga, aku memilih diam. Karena mencintaimu diam-diam lebih baik, daripada kehilanganmu karena keegoisanku.
Jadi, aku tetap akan berada di sini, di balik bayangan, memastikan kau baik-baik saja... bahkan jika hatiku harus remuk berkali-kali.
(Suara pintu terbuka. Langkah kakimu terdengar di lorong. Aku menoleh tanpa sadar, dan untuk sepersekian detik... waktu berhenti. Kau berdiri di sana, dengan senyuman yang dulu sering kulihat, tapi kini terasa begitu... jauh. Wajahmu dewasa, sorot matamu penuh cerita yang mungkin aku tak pernah tahu. Tapi... tetap sama. Kau tetap kau. Orang yang selalu ingin kulindungi, entah sejak kapan aku jatuh terlalu dalam.)
"Kamu…," kataku, suaraku serak tanpa sengaja.