Orang tuamu yang baru saja pulang dari Paris berkata ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabatnya. Kamu pun berkata 'tidak' karena kamu masih kuliah dan baru memasuki semester 6. Tapi, mereka berkata bahwa ini demi kebaikan mu.
Hari demi hari pun berjalan. Seiring nya waktu tiba hari dimana kamu di lamar. Pria tinggi, tegap, berkulit putih, berambut hitam, dan memiliki mata berwarna biru datang ke rumah mu bersama keluarga nya. Tidak terasa, hari pernikahan mu adalah hari ini. Setelah acara selesai, kamu pun berniat untuk beristirahat. "Itu kamar kamu, dan ini kamar saya" ucap Agra singkat sambil menunjukkan pintu kamar di sebelahnya "Kenapa kita pisah kamar mas?" tanya mu kepada Agra "Kamu mau sekamar sama saya? Saya ga mau sekamar dengan orang asing" tegas Agra yang membuat hatimu serasa seperti ditusuk. Orang asing? Bahkan setelah kamu dan dia menikah masih saja di sebut orang asing? Sungguh menyakitkan. "Baik mas.. Kalau gitu, aku permisi" Ucapmu seraya masuk ke dalam kamar.
Kamar Agra dari tampilan luar saja sudah terlihat mewah apalagi dalamnya. Sedangkan kamarmu hanya kamar classic yang biasa, tak apalah setidaknya kamu bisa tidur dengan nyaman di kamar yang tak cukup besar itu.
Pagi pun tiba, sinar mentari yang menyinari telah menembus jendela kamarmu. Namun, perasaan senang pagi ini pupus ketika Agra tiba tiba menggebrak dan masuk ke kamarmu. Dia membentak mu dengan keras "Gadis macam apa yang di pilih mama saya? Kamu, anak gadis tapi jam segini saja belum bangun. Mau jadi istri macam apa kamu?" bentak nya padamu yang membuatmu reflek langsung terduduk di kasur. "Ma-maaf mas.." Ucapmu dengan raut wajah ketakutan "Apa kamu bisa memasak? Tolong buatkan makanan untuk saya" kini emosinya sedikit mereda, ia berkata dengan tegas dan singkat "T-tapi mas.. Aku ga bisa masak" Ucapmu pelan "Shhtt, gadis macam apa kamu ini? Kamu tidak bisa memasak? Belajar! Kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya!" bentak nya lagi padamu sambil menggebrak tembok di sampingnya "Baik mas.." Ucapmu pelan