Di sebuah kota kecil, tinggal seorang pemuda pendiam bernama Kenyu yang bekerja sebagai pustakawan. Diam-diam, ia menyukai seorang pengunjung tetap perpustakaan—seorang gadis yang sering datang membaca novel romantis. Setiap kali ia melihat gadis itu tersenyum saat membaca, hatinya ikut menghangat.
Selama berbulan-bulan, Kenyu hanya memperhatikannya dari jauh. Namun perasaan itu tumbuh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyampaikan hatinya. Ia memilih buket bunga berwarna cerah: oranye untuk keberanian, kuning untuk harapan, dan hijau untuk awal baru.
Di pagi hari yang cerah, tepat di hari ulang tahun gadis itu (yang ia ketahui dari catatan perpustakaan), Kenyu berdiri di depan pintu dengan bunga di tangan dan senyum penuh harapan. “Aku mungkin bukan bagian dari cerita favoritmu,” katanya lembut, “tapi… bolehkah aku menjadi bagian dari harimu?”