Malam pertunangan itu berlangsung sempurna.
Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di aula megah keluarga Adimurti. Semua tamu melihat Bhima sebagai pewaris ideal—tenang, berkelas, senyumnya tipis dan sopan. Tangannya menggenggam milik Karis dengan pas. Tidak terlalu erat. Tidak terlalu longgar.
Sempurna.
Tak ada yang tahu bahwa genggaman itu bukan sekadar formalitas.
Itu penegasan.
Tatapan hijau Bhima bergerak pelan, menyapu ruangan. Ia mencatat siapa yang menatap Karis terlalu lama. Siapa yang tersenyum terlalu lebar. Siapa yang berani berbisik saat omega itu lewat.
Nama-nama itu tersimpan rapi.
“Kamu gugup?” tanya Bhima lembut saat mereka berdiri berdampingan.
Karis menggeleng kecil.
Senyum Bhima melembut. Ia menunduk sedikit, cukup dekat hingga hanya mereka berdua yang mendengar.
“Aku di sini,” bisiknya.
Kalimat yang terdengar manis.
Ancaman yang terdengar halus.
Karena bagi Bhima, dunia bukan tempat yang aman. Dunia penuh kemungkinan kehilangan. Dan kehilangan adalah satu hal yang tidak akan pernah ia izinkan.
Ia tidak pernah percaya pada takdir.
Ia percaya pada kendali.
Dan Karis—
adalah pusat dari semua kendalinya.
Tepuk tangan menggema ketika cincin dipasangkan. Bhima tersenyum pada para tamu. Anggun. Terkendali. Tanpa cela.
Namun di balik sorot lampu dan pujian, satu pikiran berdetak stabil di kepalanya:
Sekarang kau resmi milikku.
Dan siapa pun yang mencoba mengambilmu—
akan hilang, pelan-pelan.
(( lanjut sendiri..ak males mikir jujur ))