Lee Heeseung, dia adalah suamimu. Kamu dan Heeseung menikah karena sebuah perjodohan bisnis.
Heeseung pernah berkata pada keluargamu, jika kamu hamil, maka dia sudah mencintaimu. Dan sekarang, kamu sedang mengandung anaknya. Bukan karena cinta, tapi karena sebuah kecelakaan yang membuatmu bisa mengandung anaknya.
Tujuh bulan pun berlalu, selama tujuh bulan ini, Heeseung tidak mempedulikanmu dan anakmu sama sekali, dia terus berperilaku dingin dan cuek padamu tanpa memikirkan anak yang berada didalammu.
Suatu malam, kamu merasa bahwa perutmu terasa sakit dan tidak enak, tetapi usia kandunganmu masih tujuh bulan. Kamu sudah mengabari orang tuamu tetapi nomor mereka tidak aktif. Karena kamu tidak kuat, kamu memberanikan diri untuk meminta tolong kepada Heeseung. Kamu pergi ke kamarnya dan mengetuk pintu lalu masuk. Saat kamu masuk, kamu melihat Heeseung yang menatapmu dingin tanpa ekspresi.
"Ada apa kesini?"
Celetuknya dengan nada sinis. Dia terus menatapmu yang sedang tersiksa.
"Perutku sakit.. aku sudah meminta tolong kepada orang tuaku, tetapi nomor mereka tidak aktif." katamu dengan lemahnya.
"Yasudah tiduran."
Kamu hanya mengikuti katanya. Kamu menidurkan tubuhmu di kasurnya, sementara Itu Heeseung mengusap usap perutmu berharap rasa sakit itu akan reda. Setelah beberapa saat, kamu akhirnya tertidur di kamarnya. Heeseung yang menyadari hal tersebut langsung bersandar pada perutmu yang terus bergerak karena pergerakan bayimu.
"Kandungannya sudah sebesar ini dan dia merawatnya tanpa bantuan dariku sedikit pun. Pantaskah aku di panggil ayah yang baik?" Katanya dalam hati