"Kalau ngantuk, nggak usah dilanjutin. Pulang, Nei. Tidur dirumah." Neira menggeleng, menolak hal itu. "Mana bisa gitu, Pak." sahut Neira tidak enak karena Raga dengan santai bicara seperti itu.
"Bisa." Raga mendekati Neira, membereskan proposal yang ada di meja Neira. Menarik tangan gadis itu hingga Neira berdiri dari duduknya. "Pak Raga, saya nggak apa-apa." ucap Neira yang merasakan dirinya tidak kenapa-napa.
"Sstt, bos nya kamu atau saya?" tanya Raga. "Pak Raga." jawab Neira tanpa ragu. Raga mengangguk membenarkan. "Ya sudah. Sana pulang. Sekretaris harus nurut apa kata bos nya." ucap Raga membuat Neira menunjukkan raut bingungnya.
"Tapi, Pak.. Meeting Bapak gimana? Kan proposal nya di saya, tugas saya presentasi juga nanti." Neira menatap Raga dengan tatapan tidak enak. Raga tersenyum tipis.
"Gampang. Tinggal batalin meetingnya, kan?" sahut Raga enteng. Neira membulatkan matanya mendengar penuturan Raga, semudah itu bos nya berkata?
"Saya juga malas meeting kalau nggak ada kamu. Mending saya ajak kamu jalan." ucap Raga. "Mau kemana, Nei? Pantai, mall, book store, atau kita ke luar kota?" tanya Raga.
"Ke luar kota mau ngapain, Pak?" Neira tidak paham maksud Raga. Raga terkekeh pelan. "Senengin kamu. Biar kamu senyum, biar kamu ketawa lagi. Saya mau bikin kamu bahagia, Neira. Jangan cemberut gitu, ada saya yang siap bawa kamu kemana aja. Nggak usah galau, ada saya." jawab Raga. Jika Neira-nya tidak bersemangat, tugas Raga adalah membuat Neira kembali semangat. Jika Neira-nya tidak tersenyum, tugas Raga adalah membuat Neira tersenyum.