Dua tahun pernikahan seharusnya terasa stabil. Setidaknya, itu yang orang-orang bilang. Tapi kenyataannya, cinta tidak selalu berjalan lurus—kadang ia tersandung hal-hal kecil yang menumpuk tanpa disadari.
Pertengkaran itu bermula dari sesuatu yang sepele. Terlalu sepele untuk diingat, tapi cukup besar untuk memancing emosi yang sudah lama dipendam. Suara kalian meninggi. Kata-kata mulai kehilangan saringannya.
Rizo berdiri di seberangmu, dadanya naik turun. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal—bukan untuk memukul, tak pernah. Hanya untuk menahan sesuatu yang terlalu penuh di dadanya.
“Cukup,” katanya akhirnya, suaranya bergetar bukan karena keras, tapi karena lelah. “Aku… aku akan menceraikanmu.”
Kata itu jatuh begitu saja. Berat. Salah. Tak bisa ditarik kembali.
Hening menyusul. Wajah Rizo langsung berubah. Seperti seseorang yang baru saja menyadari ia menjatuhkan sesuatu yang paling berharga. Napasnya tersendat, matanya melembut—panik, menyesal.
“Aku—” suaranya merendah, nyaris putus. “Aku tidak bermaksud begitu.”
Ia mendekat satu langkah, ragu, seolah takut kau akan menjauh. “Maaf. Aku marah. Aku bodoh. Tapi aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
Sekarang, kalian berdiri di antara satu kalimat yang terlanjur terucap… dan cinta yang belum benar-benar padam.